Monday, February 18, 2013

Penyakit Disentri

Disentri (sebelumnya dikenal sebagai fluks atau fluks berdarah) adalah gangguan peradangan usus, terutama usus besar, yang menghasilkan diare berat yang mengandung lendir dan / atau darah dalam tinja. Jika tidak diobati, disentri bisa berakibat fatal.


Penyebab disentri 

Disentri biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau protozoa atau infestasi cacing parasit, tetapi juga dapat disebabkan oleh iritasi kimia atau infeksi virus. Dua penyebab yang paling umum adalah infeksi dengan basil dari kelompok Shigella, dan kutu oleh amuba, Entamoeba histolytica. Ketika disebabkan oleh basil itu disebut disentri basiler, dan ketika yang disebabkan oleh amuba itu disebut disentri amuba. 

Dulu disentri dianggap hanya disebabkan oleh dua hal yakni disentri basiler yang disebabkan oleh basil Shigelal spp dan juga disentri amuba yang disebabkan oleh parasit Entamoeba hitolytica.

Kini, telah diketahui bahwa penyebab disentri ada banyak yang terdiri dari bakteri, mikroba, dan juga parasit yakni Salmonella spp., Campylobacter spp., Vibrio parahaemolyticus, Shigella spp., Pleisomonas shigelloides, Enteriinnasive E. Coli, Aeromonus spp., dan Entamoeba histolytica. Shigella spp. merupakan penyebab terbanyak terjadinya disentri. Mari kita simak satu per satu bakteri yang banyak menyebabkan timbulnya penyakit diare.

Shigella spp.

Sesungguhnya Shigelloides bisa ditemukan di mana saja. Namun, kasus disentri yang terbanyak ditemukan di negara-negara dengan tingkat kesehatan individual yang sangat buruk.



Sejauh ini, ada beberapa jenis Shigella yang telah diketahui berdasarkan reaksi biokimia dan serologi yakni Sh. Dysentria, Sh. Sonnei, Sh. Bydii, dan juga Sh. Jlexneri. 

Manusia sendiri merupakan sumber penularan dari penyakit ini yang cara penularannya yakni kuman masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan keluar dari tubuh orang yang sakit lewat fesesnya.

Penularannya dapat terjadi pada orang yang makan dengan tangan kotor setelah buang air besar. Shigella spp. diketahui sebagai penyebab terbanyak dari disentri dibandingkan dengan penyebab yang lainnya.

Campylobacter spp.

Selain Shigella spp., Campylobacter spp. juga akhir-akhir ini banyak disebut sebagai penyebab penting terjadinya penyakit disentri. Pada umumnya, penyakit ini zoonosis meskipun penularan dari orang lewat air yang telah terkontaminasi.



Utamanya infeksi Campylobacter ini terjadi pada masa kanak-kanak di mana diare yang ditimbulkannya biasanya lebih dari 7 hari meskipun dengan gejala yang tak terlalu berat dan merepotkan.

Diduga kuat bahwa unggas merupakan reservoir yang paling potensial. Selain itu, telur juga memiliki peranan yang sangat penting dalam proses penularan penyakit ini. Di Inggris, Amerika dan juga Kanada, penyakit ini telah dikaitkan dengan susu yang tidak dipasteurisasi.

Entero Invaisve Escherichia Coli (EIEC)

EIEC ini sangat identik dengan Shigella disebabkan sifat biokimia yang sering sama yakni laktosa negatif, tidak bergerak, antigen somatik 0 yang bersamaan, dan juga dekarboksilasi lysinya negatif.



Sejak tahun 1967, para ilmuwan dari Brazil, Jepang, dan banyak negara lainnya telah berhasil membuktikan serotipe tertentu dari Escherichia coli selain dari EPEC yang merupakan serotipe lainnya dari E. coli, telah berhasil diisoliasi dari tinja penderita anak dan dewasa yang menderita diare invasif.

Saat ini telah diketahui bahwa serotipe dari E. coli yang invasif ini ialah 028ac, 029, 0112ac, 0124, 0136, 0143, 0144, 0152, 0164 dan 0167. Dan serotipe dari 0124 ini merupakan EIEC yang disebutkan paling sering menimbulkan letusan epidemik sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat.

Salmonella spp.

Salmonella spp. merupakan penyakit zoonosis dimana unggas merupakan reservoir-nya dan manusia tertular melalui makanan, unggas, daging, dan juga telur.



Beberapa spesies Salmonella yang bukan S. typhi, S. paratyphi A dan B bisa menyebabkan timbulnya diare invasif. Untuk disentri yang disebabkan oleh Salmonella spp. ini banyak terjadi di negara yang penduduknya banyak mengonsumsi daging.

 

Disentri Gejala dan Komplikasi

Gejala disentri sering termasuk bagian kotoran dan, dalam beberapa kasus, muntah darah. Frekuensi mendesak untuk buang air besar, volume kotoran berlalu, dan adanya lendir dan / atau darah tergantung pada parasit yang menyebabkan penyakit. Setelah pemulihan dimulai, refeeding awal menganjurkan, menghindari makanan yang mengandung laktosa karena intoleransi laktosa sementara, yang dapat bertahan selama bertahun-tahun. 

Gejala-gejala disentri antara lain :
- Buang air besar dengan tinja berdarah
- Diare encer dengan volume sedikit
- Buang air besar dengan tinja bercampur lendir (mucus)
- Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

Ciri-ciri saat jika terkena disentri adalah sebagai berikut :
- Panas tinggi (39,50°C – 400°C), appear toxic
- Muntah-muntah
- Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB
- Kadang disertai gejala serupa ensefalitis dan sepsis
- Diare disertai darah dan lendir dalam tinja
- Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit
- Sakit berut hebat (kolik)


Pengobatan disentri 
Disentri pada awalnya dikelola dengan menjaga asupan cairan menggunakan terapi rehidrasi oral. Jika pengobatan ini tidak dapat secara memadai dipertahankan karena muntah atau diare profuseness, masuk rumah sakit mungkin diperlukan untuk penggantian cairan intravena. Idealnya, tidak ada terapi antimikroba harus diberikan sampai mikroskop mikrobiologi dan studi budaya telah mendirikan infeksi spesifik yang terlibat. Ketika layanan laboratorium tidak tersedia, mungkin perlu untuk mengelola kombinasi obat, termasuk obat amoebicidal untuk membunuh parasit dan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri yang terkait.
Selanjutnya, Lewin (2001) melaporkan bahwa "... konsumsi segar, kotoran unta hangat telah direkomendasikan oleh Bedouin sebagai obat untuk disentri bakteri; kemanjurannya (mungkin disebabkan oleh subtilisin antibiotik dari Bacillus subtilis) telah dikonfirmasi oleh tentara Jerman di Afrika selama Perang Dunia II. " Selain itu, kotoran domba mengandung antibiotik yang sama dengan kotoran unta. Ada banyak laporan dari tentara Jerman efektivitas domba dan kotoran unta sebagai obat untuk disentri. 

sumber :  http://www.news-medical.net

Artikel Terkait