Wednesday, March 9, 2016

Agama Itu Untuk Manusia Bukan Untuk Tuhan



Dunia Hawa - Untuk siapakah agama itu "diturunkan"? Jelas untuk manusia, bukan malaikat, binatang, tumbuhan, gendruwo, tuyul gundul, apalagi untuk Tuhan. Watak agama itu "antroposentris" (berpusat pada manusia) bukan "teosentris" (berpusat pada Tuhan). Dengan kata lain, manusialah, bukan Tuhan, yang menjadi sasaran dan tujuan utama sebuah agama karena jelas Tuhan tidak membutuhkan agama. Tuhan tidak butuh disembah. Tuhan bukanlah sosok "tuan raja feodal" yang butuh sembah dan sesembahan. Meskipun seluruh umat manusia dan mahluk hidup tidak menyembah-Nya, Dia tidak galau, tidak "petheken". Karena manusialah, agama itu ada atau diadakan. Karena banyak manusia-manusia yang berotak dan berperilaku seperti "demit sontoloyo" itulah agama hadir atau dihadirkan di muka bumi.     

Simaklah dengan seksama: ada segunung ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang bertutur tentang kemanusian bukan ketuhanan, tentang manusia di bumi ini bukan di alam paska kematian, tentang aksi-aksi sosial bukan rutinitias ritual dan seterusnya. Kalaupun Al-Qur'an berbicara tentang Tuhan, alam kubur, dan ritual, itupun hanya sebagai "sarana" bukan "tujuan": medium agar manusia berbuat kebaikan dengan sesama mahluk di muka bumi ini. Ingat: bukankah Nabi Muhammad yang agung itu diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan ahlak manusia, bukan untuk mengislamankan jagat raya?

Tapi sayang seribu sayang, banyak umat beragama di dunia ini yang justru sibuk memikirkan Tuhan lupa sesama manusia, sibuk "memburu surga" lupa berbuat baik dengan sesama, sibuk mengumpulkan pahala akhirat lupa "pahala dunia", sibuk dengan ritual-ritual individual lupa aksi-aksi sosial-kemanusiaan dan seterusnya. Jika dulu agama itu untuk masyarakat non-agama, sekarang saya melihat banyak umat beragama yang justru membutuhkan agama itu sendiri...

[prof.sumanto al qurtuby]


Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment