Thursday, November 10, 2016

Penistaan Agama, Prespektif Minoritas

DUNIA HAWA - Pernahkah puluhan ribu orang yang berdemo 4 November tempo hari membayangkan bagaimana posisi dan perasaan kaum minoritas soal penistaan agama? Sadarkah bahwa penistaan terhadap agama minoritas terjadi hampir tiap hari, dan pelakunya berasal dari kalangan Islam? Mungkin sebagian dari para pengunjuk rasa itu adalah pelakunya, tapi mereka tidak merasa salah.

Coba perhatikan posisi orang Kristen. Agama Kristen dianggap agama sesat. Ini adalah agama yang dituduh sebagai produk penyelewengan ajaran Isa (Yesus). Kitab suci mereka dituduh sebagai kitab palsu. Kitab suci asli, katanya, disembunyikan di suatu tempat di Vatican, agar tidak diketahui orang banyak. Lucunya, banyak orang Islam yang tahu. Umat Kristen, kata mereka, sudah ditipu.


Umat Islam mempunya pengajiam khusus yang membahas soal kesesatan Kristen, yang disebut kristologi. Ada beberapa ustaz spesialis di bidang ini. Ia laris diundang berceramah ke mana-mana. 

Kajian dilakukan di mesjid-mesjid dengan pengeras suara bertenaga besar, menyampaikan isi kajian ke segenap penjuru. Juga dilakukan kajian yang sama di berbagai stasiun TV, terbuka luas tanpa saringan.

Orang-orang pribadi juga tak jarang menista dalam ruang kehidupan mereka. Mereka dengan enteng mengumbar isi kajian-kajian tadi depan orang-orang Kristen. Mereka menjadikan ajaran agama orang lain sebagai olok-olok.


Minoritas dari kalangan Islam seperti Syiah dan Ahmadiyah 
lebih mengenaskan lagi nasibnya. Tidak hanya ajaran mereka yang dicerca, tapi mereka juga dizalimi secara fisik. Mesjid mereka diserang, mereka diusir, bahkan ada yang dibunuh. Semua itu tidak pernah dianggap sebagai penistaan. Semua itu dianggap sebagai kebenaran, menegakkan ajaran Allah.

Maukah puluhan ribu orang itu, dan ratusan juta muslim lain mencubit diri mereka, untuk menyadari bahwa dicubit itu sakit, kemudian menghayatinya, dengan berhenti mencubit orang lain?

[hasanudin abdurakhman, phd]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment