Monday, November 14, 2016

KABAR DUKA! Balita Korban Bom Molotov Samarinda Meninggal Dunia

DUNIA HAWA – Kabar duka menyelimuti keluarga korban ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016) pagi kemarin.


Satu korban atas nama Intan Olivia (2) meninggal dunia sekitar pukul 03.45 Wita, Senin (14/11/2016) dini hari, setelah sempat menjalani perawatan di RSUD AW Syahranie.


Luka bakar yang cukup parah, membuat bocah malang tersebut tak tertolong. Sementara korban lainnya yang juga dirawat di rumah sakit yang sama, atas nama Triniti Hutahaya (4) masih menjalani perawatan intensif di ruang PICU.

“Semua korban yang dilarikan ke sini (RSUD AW Syahranie) mengalami luka bakar, satu korban meninggal dan satu lagi masih menjalani perawatan,” kata Humas RSUD AW Syahranie, dr Febian Satrio, Senin (14/11/2016).

Saat ini korban meninggal masih berada di ruang jenazah rumah sakit. Diperkirakan kurang dari satu jam mendatang korban akan dibawa ke rumah duka, di Jalan Cipto Mangunkusumo, Rt 3, atau tidak jauh dari lokasi ledakan bom kemarin.

Sementara itu, korban lainnya atas nama Alvaro Aurelius (4) dan Anita Kristobel (2), juga masih menjalani perawatan di RSUD IA Moise, yang juga mengalami luka bakar.

RSUD AW Syahranie akan mengambil alih semua perawatan terhadap korban bom di Gereja Oikeumene, Minggu (13/11/2016) pagi kemarin.

Saat ini yang telah berada di rumah sakit milik Pemprov Kaltim itu, yakni Trinity Hutahaya (4) dan korban meninggal Intan Olvia Marbun (2). Sedangkan korban lainnya masih berada di Rumah Sakit IA Moies, yakni Alvaro Aurelius (4) dan Anita Kristobel (2).

Direktur RSUD AW Syahranie, dr Rachim Dinata menjelaskan, kondisi Trinity mengalami luka bakar yang cukup serius, yakni mengalami luka bakar sekitar 50 persen, dan kondisinya masih kritis. Sedangkan, korban meninggal mengalami luka bakar sekitar 75 persen, dan untuk dua korban lainnya, mengalami luka bakar sekitar 16 persen.

“Korban meninggal dan korban lainnya mengalami luka bakar yang cukup parah, selain itu paru-paru mereka juga mengalami gangguan karena menghirup asap maupun zat saat terjadi ledakan,” kata dia, Senin (14/11/2016).

Pihaknya pun telah membentuk tim untuk penanganan korban-korban, di antaranya terdapat spesialis bedah plastik, dokter umum, anastesi, ahli anak dan perawatan intensif.

Sementara itu, semua biaya perawatan ditanggung oleh pemerintah. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy, dalam kunjungan ke RSUD AW Syahranie. “Semua biaya ditanggung pemerintah, dan rumah sakit akan tangani ini full tim,” tutur Muhadjir Effendy.

Mawarni menyaksikan para bocah yang sedang bermain di teras Gereja Oikumene tiba-tiba ambruk terkena ledakan bom molotov. “Anak-anak sedang bermain di luar gereja. Orangtua mereka sedang berdoa di dalam gereja. Tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring hingga tiga kali. Kami semua langsung panik, mencari perlindungan, dan mencari anak kami masing-masing,” kata Mawarni yang juga keluarga Intan, Minggu (13/11/2016).

Mawarni menyebutkan, saat suara ledakan itu terdengar pertama kalinya bola api dan asap mengepul terlihat di pintu masuk gereja yang berlokasi di Jalan Cipto Mangunkusumo, Samarinda Seberang.

“Kami sudah selesai ibadah dan mau salaman dengan pendeta, sekalinya ada ledakan. Saya dengar jelas, untuk ledakan pertama api mengepul, dan kedua kalinya bola api dan asap hitam langsung mengepul hingga masuk ke gereja,” ucap Mawarni.

Saat itu juga, jemaat berhamburan menyelamatkan diri. “Saya panik dan syok. Saya pun langsung mencari anak-anak saya, biarpun apa mereka semua anak-anak kami,” ia sedih.

Wanita paru baya yang tinggal di Loa Janan Ilir itu menceritakan detik-detik terakhir sebelum ledakan bom.

“Kami gereja itu jam 08.00 Wita. Sekitar jam 10.00 Wita Ledakan bom terjadi. Sebelumnya aman tidak ada yang aneh, aman-aman saja, kami pun sembahyang dengan biasa,” kata dia.

Dia menyebutkan, ada seorang datang membawa ransel. Orang tak dikenal itu lari. Kemudian ransel yang dilemparkannya meledak dan mengenai empat unit motor yang terparkir di depan gereja.

“Saya tidak melihat pelakunya, hanya mendengar dari anak-anak bahwa ada pria membawa tas ransel, setelah membakar tasnya dan kemudian lari,” ulang Marni.

Sebanyak empat anak menjadi korban. Mereka adalah Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3). 

[tribunnews]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment