Monday, June 27, 2016

Valak Aja Mau Berubah, Masak Lu Enggak?


Dunia Hawa - Dulu saya hampir tidak percaya bahwa negara ini bisa membuat kepala saya tegak kembal.

Entah berapa tahun saya harus menundukkan kepala ketika orang berbicara tentang Indonesia. Di Malaysia saja, saya menemukan banyak sekali nada meremehkan tentang negara ini. Mulai dr sebutan "orang Indon" sampai saya bertemu dgn beberapa orang yg menganggap Indonesia isinya cuman pembantu saja. 

Hari ini saya melihat betapa Indonesia sudah begitu dihargai, bukan karena kemajuan pesat pembangunan infrastrukturnya saja. Bahkan kerendahan hati Presidennya, yang dengan santainya naik pesawat ekonomi menjadi bahan perbincangan teman2 saya di Malaysia. Hal yang mereka rindukan dan sulit mereka temukan pada pejabat di negaranya.

Dulu saya juga hampir tidak percaya bahwa Jakarta bisa menjadi kota yang ramah. 

Ganasnya Jakarta terkenal di seluruh negeri karena penduduknya yg beragam dan terkenal dengan jargon, "siapa yg kuat dia yang menang". Banyak orang kalah di Jakarta yg terabaikan dan kalau lu ga punya duit utk beli kendaraan pribadi, lu termasuk golongan orang2 pencium bau ketek segala aroma mulai yg busuk sampe yg tidak tertahankan.

Sekarang kemana2 murah dan terjangkau. Sungai2 sudah mulai bersih dan pembangunan tertata. Dibangunnya sistem transportasi massal yg manusiawi membuat saya kembali betah tinggal di Jakarta. Saya membayangkan 5-10 tahun lagi jika semua dilakukan dgn benar, Singapore pun pasti akan iri hati.

Kenapa kita bisa berubah ?

Karena kita mau. Kita menolak segala bentuk pelecehan terhadap simbo!2 kebanggaan kita. Perubahan itu terjadi karena kita mau mengoreksi segala kelemahan kita. Kita tidak malu mengolok diri kita sendiri bahwa dulu kita lemah. Kita tidak bersembunyi di balik kebanggaan tanpa berusaha memperbaiki diri. Kita yang harus merubah nasib kita sendiri, bukan orang lain.

Dulu saya tidak percaya jika Polri bisa menjadi institusi yg dibanggakan, benar2 mendapat tempat di hati dan menjadi tempat bersandar hukum yg selama ini hanya berupa mimpi yg tak terbeli Aparat berwibawa bukan karena ia ditakuti, tetapi segan karena institusinya bersih.

Tapi sesudah saya melihat bahwa kita semua bisa berubah jika kita mau, saya percaya bahwa kelak pak Tito bisa mengikuti langkah Ahok dan Jokowi. Dimana saya selalu menyediakan kopi hitam panas setiap pagi sebagai penghormatan tertinggi bagi karakter yang tidak sibuk dengan dirinya sendiri.

Saya percaya dan semoga lembaga yg dicintai sekaligus dibenci ini bisa menjadi hanya dicintai tanpa pernah lagi dibenci.

Dulu saya tidak percaya setan bisa mendapatkan hidayah... sampai saya melihat Valak yang ternyata sekarang sudah berhijab...

Asu dahlah...

[denny siregar]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment