Sunday, April 9, 2017

Lagu Kampanye Kobankan Semangat Kubu Anies-Sandi Jiplakan Penyanyi Yahudi


DUNIA HAWA - Sungguh absurd dan sulit dinalar dengan akal sehat. Bagaimana mungkin sebuah lagu yang digunakan untuk kampanye pemenangan Pilkada DKI oleh kubu Anies Sandiaga Uno dan dipublish oleh PKSTV adalah lagu jiplakan tepatnya bajakan. Dan parahnya seluruh notasi lagu Kobarkan Semangatmu (mendekati 100%) adalah not yang sama yang dinyanyikan dan diciptakan oleh Band asal Israel yang dimotori penyanyi Gad Elbaz yang berjudul Hasyem Melech. Band ini sudah kondang tidak saja di Israel dan Eropa tetapi juga telah merambah ke Amerika. Saya bertanya kepada teman yang mengerti bahasa Ibrani arti Hasyem Melech jika diindonesiakan adalah “Allah adalah Raja, Yehova adalah Allah dan Tuhan Kami.” Kalau menjiplak intro atau sepenggal melodi, kurang dari 3 bar itu bisa berarti kebetulan, tetapi lagu Kobarkan Semangat ini hampir 100 % memiliki kesamaan notasi, melodi, dan ketukan lagu Hasyem Melech. Ini jelas-jelas perampokan. Tidak tau malu. Dan yang sulit diterima oleh nalar sehat adalah lagu hasil jiplakan mendekati 100% ini digunakan untuk kampanye pemenangan Pilkada DKI. Jelas kubu Anies-Sandiaga ini menghalalkan segala cara guna memenangkan kursi nomor 1 dan 2 DKI. Dan tidak malu-malu menggunakan barang “tak halal.” Sungguh menjijikkan!

Apa  konsekuensi dari membajak lagu? Pertama, si pencipta lagu bisa mengatakan bahwa yang membajak lagunya adalah perampok mengingat dalam industri musik pop, sebuah lagu bisa berarti ketenaran dan fulus. Dengan menjiplak dua item itu berati merampok ketenaran dan fulus sang pencipta lagu. Dan celakanya di video Korbankan Semangat yang dilansir oleh PKSTV itu terlihat Anies dan Sandi berjoget ria. Mereka tidak sadar sedang berkampanye menggunakan lagu yang berlabel “tak halal,” mirip mayat yang  tak disalatkan oleh masjid pendukung Anies-Sandiaga Uno. Rupa-rupanya ini senjata makan tuan buat kubu Anies-Sandi. Kedua, si pencipta lagu bisa menggugat si penjiplak dengan tuntutan 1000 kali lipat dari nilai ekonomis lagu yang dijiplak. Bukan masalah 1000 kali lipatnya yang menjadi ukuran, tetapi hasil kreativitas adalah uniq, dan diakui oleh hukum internasional. Kreativitas dilahirkan bukan saja dari oleh-pikir, tetapi juga oleh-rasa yang telah diasah bertahun-tahun. Untuk membuat sebuah lagu, bisa jadi sipencipta telah mengorbankan waktu bertahun-tahun untuk belajar bagaimana menggunakan notasi yang pas, melodi yang secara ritmik mengusung lagu, dan yang tak kalah penting adalah syair atau puisi yang digunakan untuk menjiwai lagu atau sebaliknya notasi yang dijiwai oleh kata-kata (wordings). Saya bisa membayangkan, betapa sakit hati dan marahnya Gad Elbaz jika ia mengetahui lagunya Hasyem Melech telah digunakan tanpa izin dan dijiplak mentah-mentah nyaris 100% dan kemudian diperuntukkan bagi sesuatu yang begitu terhormat : Pemilihan Gubernur Ibukota sebuah negara bernama Indonesia. Pemilihan gubernur atau pejabat publik seharusnya steril dari label “tidak halal.” Semangat ini sungguh tidak dimiliki oleh kubu Anies-Sandi. Pikiran liar saya kemudian terbang ke masa depan. Andaikata Anis-Sandi memenangkan pilkada DKI, apa yang terjadi dengan pemerintahaan dan kebijakannya dalam mengelola ibu kota. Dapat diduga pasti akan menghalalkan hal-hal yang mestinya tidak halal. Ya contohnya menjiplak lagu itu. Bukan itu saja, kendati membantah, Anies menjiplak KJP-nya Ahok-Djarot hanya kemudian ditambah Plus di sana. Ketiga, apa yang dilakukan kubu Anies-Sandi merupakan pelanggaran Hak Cipta (Copy Right) yang di Indonesia diatur berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2014. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah “hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” (pasal 1 butir 1). Hak cipta di Indonesia juga mengenal konsep “hak ekonomi” dan “hak moral”. Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan, sedangkan hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku (seni, rekaman, siaran) yang tidak dapat dihilangkan dengan alasan apa pun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan. Contoh pelaksanaan hak moral adalah pencantuman nama pencipta pada ciptaan, walaupun misalnya hak cipta atas ciptaan tersebut sudah dijual untuk dimanfaatkan pihak lain. Hak moral diatur dalam pasal 24–26 Undang-undang Hak Cipta.

Berikut adalah komentar dari Gad Elbaz yang saya kutip dari laman Facebooknya yang berkaitan dengan lagunya yang dibajak. Ada nada kemarahan disana dan menuduh Sandiaga Uno sebagai ekstrimis …

“Hi guys I want to share with you all something important about this song that was out 5 years Ago in 2013.

So in Indonesia for political purposes they used the biggest Song in the Jewish community sang by me an Israeli Singer for political purpose, that the politician is Anti Israel and they are Extremist Moslem. His name is Sandiaga Uno. So I must share with u all they said I copied them so… This song was out before any artist Such as Mark Anthony release it I release this Cover By Chab Challed. 

And this song became the biggest Jewish song all over the world in every country and Thank U #God for this song and May all the extremist people that want to kill all the people that don’t believe in there believes God will pay them Back for all they done and want to do I’m this world 
Happy I am in the good side of the world.”

Ini lagu asli Hasyem Melech :



Pembaca, silahkan kunjungi laman Facebook Gad Elbaz untuk mengetahui lebih dalam lagi dinamika yang terjadi setelah ia mengetahui lagunya dibajak. Banyak komentar dari orang-orang Indonesia. Ada yang membela Sandiaga dan meminta maaf dan ada yang memuji lagunya Gad Elbaz

Komentar Kubu Anies-Sandi setelah ketahuan menjiplak 100% tanpa malu adalah tipikal jawaban pembelaan diri yang tak masuk akal dan tidak didukung oleh data yang akurat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Anies-Sandi selama kampanye putaran 2. Aneh bin ajaibnya, kubu Anies-Sandi justru balik menuduh Gad Elbazlah yang menyontek lagu yang dinyanyikannya itu dari lagu asal penyanyi  Maroko Cheb Khaled berjudul C’est La vie.  Kubu Anies-Sandi tidak menyontek dari penyanyi Yahudi itu. Tetapi terinspirasi dari sebuah lagu asal Maroko yang bernada Timur-Tengah yang digemari oleh Sandiaga Uno. Memang betul lagu Hasyem Melech itu adalah bernada Timur-Tengah, karena Israel dan orang Yahudi adalah serumpun dengan bangsa Arab yang tianggal di Timur Tengah. Rupanya kubu Anies-Sandi ogah di-Yahudi-kan setelah ketahuan menyontak lagu dari penyanyi asal Yahudi.

Lagu Korbankan Semangat versi bajakan dari lagu Hasem Melech:


Perbandingan antara lagu Hasyem Melech dan Korbankan Semangat sedang menjadi trending di Youtube


Jawaban yang dilontakan oleh kubu Anies-Sandi jelas jauh dari benar. Lagu Hasyem Melch telah dirilis oleh penyanyinya 5 tahun lalu dan dinyanyikan kembali oleh banyak penyanyi lain seperti Mark Anthony dan Cheb Khaled.

Kini semakin terkuak bahwa kubu Anies-Sandi tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk memenangkan kontestasi DKI-1, bahkan lagu kampenye Kobarkan Semangat adalah 100% pembajakan. Sungguh menjijikkan!

Begitulah komodo

@niti ganda


Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment