Friday, March 24, 2017

Seramnya Jakarta Bersyariat


DUNIA HAWA - Ada kelompok yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota syariat. Banyak selebaran kerap ditemukan di berbagai tempat yang isinya mengampanyekan salah satu paslon gubernur DKI Jakarta akan menjadikan Ibu Kota menjadi kota bersyariat.

Tentu, gerakan ini sangat mengerikan. Dinamika Pilkada DKI Jakarta ternyata tidak hanya memunculkan perpecahan di kalangan masyarakat, tetapi juga ancaman nyata gerakan kelompok radikal yang ingin merongrong keutuhan NKRI.

Beberapa Indikasi 


Indikasinya sangat jelas. Kelompok ektremis sejak awal telah mempolitisasi ayat-ayat suci untuk kepentingan politik. Mereka juga mengintimidasi dan menebar ancaman kepada masyarakat, bahkan mereka tidak mau untuk mengurus dan mensholati jenazah orang-orang yang dianggap mendukung pemimpin non-muslim.

Apalagi masifnya penyebaran konten yang berisi ajakan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota Syariah. Selebaran ini ditengarai sebagai awal mula penyebaran ideologi NKRI bersyariah. Mereka meminta agar seragam PNS Jakarta wajib diganti dengan yang lebih syar’i. Seragam polisi dan TNI di wilayah Jakarta harus menyesuaikan diri dengan ketentuan syar’i. Perempuan dilarang memakai celana jeans, yaitu celana ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh dan dilarang membonceng motor degan posisi ngangkang.

Kelompok radikal juga menyebarkan konten-konten yang berisi perempuan harus pulang ke rumah sebelum matahari tenggelam. Area publik seperti food court, bioskop, lapangan, dan taman bermain harus dibagi dua antara ikhwan dan akhwat, dan dipisahkan oleh hijab pemisah. Mall, café, restoran dan seluruh tempat hiburan harus tutup pukul 18.00 (saat waktu maghrib tiba). Gerai toko pakaian, baik online maupun offline dilarang menjual baju yang mengumbar aurat, baik laki-laki maupun perempuan.

Pekerja ojek mangkal dan online dilarang membawa penumpang yang bukan muhrim tanpa ada batas pemisah (hijab). Taksi dan bajaj dilarang membawa penumpang yang bukan muhrim, khalwath berduaan berpotensi menimbulkan maksiat. Seluruh pentas seni sekolah (pensi) dilarang karena menimbulkan maksiat, mabuk-mabukan dan maksiat zina mata dan terjadi percampuran pria dan wanita di satu tempat.

Konser musik baik melibatkan musisi dalam maupun luar negeri tidak boleh digelar. Karena itu merupakan konser ajang maksiat, ajang pergaulan bebas dan zina mata. Warga sekitar Jakarta (Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok) harus menyesuaikan diri dengan aturan Jakarta Bersyariah. Dan masih banyak lagi blue print yang mereka ajukan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota syari’ah.

Ancaman Serius


Ini semua adalah ancaman serius bagi keutuhan bangsa dan negara karena kelompok radikal membuka kembali pintu sektarianisme. Kelompok ekstremis telah mengobarkan kembali sektarianisme yang dapat memecah belah umat dan kelompok pemahaman agama yang berbeda. Gerakan ini mirip dengan aksi Ikhawanul Muslimin (IM) di Mesir yang telah meluluhlantahkan keberagaman di Mesir.

Di Mesir, Ikhwanul Muslimin menggunakan masjid untuk menarik simpati dan menyebarkan ideologi-ideologi sektarianisme agama. Mereka juga juga mempolitisasi ayat-ayat suci untuk kepentingan politiknya, hingga terciptalah suasana konflik sektarianisme yang sangat dahsyat yang kemudian meluluhlantahkan kedamaian di Mesir.

Di Ibu Kota, gerakan ektremis hampir mirip dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Mereka mengglorifikasi semangat sektarianisme dan intoleransi yang sangat bertentangan dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika yang telah dipraktikan sejak lama oleh para founding father kita. Kelompok ini mulai merongrong keberagaman yang merupakan rahmah bagi berbagai kelompok masyarakat di negeri ini.

Kita mesti berhati-hati dari aksi kelompok ekstremis-radikal yang mengaku membela Islam dan membela ulama, tetapi meneror ulama yang berbeda. Mereka menuduh ulama-ulama yang pro Pancasila sebagai kafir, munafik dan liberal. Mereka tidak mampu berdebat dengan argumentasi yang logis dan rasional. Mereka adalah kelompok “copas” dan “ustad malpraktik”. Mereka hanya bermodalkan satu/dua hadis terjemahan, bukan hasil pembelajaran di pesantren.

Dalam aspek teologis, gerakan ini mirip sekali dengan kelompok khawarij yang mengaku Islam, namun kerap menteror dan membuat kerusakan dengan berbagai tindakan yang anarkis dan intimidasi fitnah. Oleh karena itu, jangan sampai Jakarta dikuasai kelompok khawarij modern. Karena mereka ingin menjadikan Jakarta bersyariah sebagai awal penyebaran NKRI bersyariah.


@ahmad hifni


Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment