Monday, November 14, 2016

Propaganda Khilafah

DUNIA HAWA - Ketika akhirnya adek Intan Olivia korban bom Samarinda wafat karena luka bakar yang serius, saya tertarik untuk melihat pandangan kaum sebelah..

Dan benar sesuai dugaan saya, jangankan bersedih atau mengutuk aksi itu, mereka sibuk berbicara bahwa bom Samarinda adalah pengalihan isu dari kasus Ahok...


"Kenapa begitu? Apakah mereka sudah tidak punya hati?" Kalau masalah hati, sudah tidak usah ditanyakan lagi. Jika punya, sejak lama mereka sudah waras dalam berkomentar..

Tapi selain masalah hati, hal yang perlu diwaspadai adalah propaganda mereka..

Perhatikan saja, mereka tidak menemukan celah bahwa yang melakukan pemboman ini adalah non muslim. Jika ada - entah itu dalam bentuk KTP atau identitas apapun - maka mereka menggonggong sahut menyahut bahwa "Ini perbuatan kafir, ini fitnah terhadap Islam..". 

Tetapi ketika teridentifikasi bahwa memang teroris itu beragama Islam, maka teriakan mereka berbeda, "Itu pengalihan isu !".

Jadi, kalah menang, mereka tetap selalu pengen menang sendiri. Itu sifat yang dibangun dengan sistematis, kebanggaan diri akan golongannya..

Siapa yang mengabarkan bahwa bom Samarinda adalah "pengalihan isu pemerintah atas kasus Ahok" ?

Sesudah saya telusuri, yang pertama adalah Desmond J Mahesa, Wakil Ketua Komisi III dari Gerindra. Ooww..

Perhatikan perkataannya, "Di tengah kondisi hari ini yang suasana politik agak panas, akibat demo tanggal 4 dan sampai sekarang masih terasa, apakah ini bukan daripada mainan ?"

Luar biasa, sebuah apresiasi penuh cinta dari seorang wakil rakyat terhadap mereka yang "diwakilinya".

Kedua, yang sering dikutip adalah pernyataan pengamat terorisme yang juga Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya.

Eh, siapa Harits abu Ulya?

Menurut penelusuran, dia adalah mantan (?) Ketua Lajnah Tsaqafiyyah HTI. Oow.. ada HTI-nyah ternyata..

Coba perhatikan perkataannya yang saya ambil dari hasil wawancaranya dengan media online tidak terkenal drise-online tentang lembaganya. 

"CIIA adalah komunitas yang di dalamnya berkumpul beberapa person generasi Muslim yang punya kesadaran ideologis untuk ikut mengawal pertarungan pemikiran, opini dan propaganda demi sang “fajar “ (Khilafah) kembali terbit.."

Aha, propaganda untuk mengawal khilafah.... Sudah mulai kelihatan bentuknya.

Dan ada juga Tengku Zulkarnain, dari MUI yang di ILC pernah bicara untuk memotong kaki dan tangan "penista agama". Bahasa mereka semua sama, bahwa ini pengalihan isu dan dikutip oleh banyak media online spt portalpiyungan, eramuslim dan sejenisnya.

Lalu di share secepat "Lucky Luke yang menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri" oleh kaum hore-hore yang hidup dengan mengandalkan otot daripada akal.

Konsep "pengalihan isu" ini adalah bagian dari propaganda untuk melemahkan kredibilitas pemerintah. Buat mereka, korban hanyalah "bagian dari permainan perang" saja.

Jadi jangan berharap mereka bersedih, mengutuk apalagi berdemo terhadap tragedi itu. Mereka malah memanfaatkannya sebagai senjata untuk menyerang aparat dan pemerintah.

Nah, kenali dulu pola permainan mereka supaya kita sadar bahwa mereka sebenarnya memainkan "agenda-agenda" dengan menunggangi agama melalui politik. Tak kenal maka tak sayang....

Masak mau selamanya menjadi "umat buih lautan" yang diombang-ambing tanpa sedikitpun pengetahuan?

Eh, seruput dulu kopinya. dah mau malam..

[denny siregar]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment