Saturday, April 23, 2016

Pagi, Pakde Jokowi


Dunia Hawa - Pagi, pakde.. Sekarang sedang di Belanda ya ? Senangnya lihat pakde dikerumuni orang orang Indonesia di sana. Karena saya hanya lihat foto fotonya, jadi saya bisa meihat banyak yang ngajak selfi sama pakde.

Pakde punya banyak penggemar di sana. Mereka mereka yang berfikiran terbuka dan positif melihat perkembangan Indonesia di tangan pakde. Mereka tidak terpengaruh oleh nyinyiran orang orang sini yang merasa sok tahu dengan apa yg pakde lakukan. Orang orang yang merasa tidak ada perkembangan apapun, karena buta. Buta hati.

Mereka yang dulu sibuk nyinyir karena BBM kita sempat menyentuh harga termahal di dunia, tapi sama sekali tidak berterima-kasih ketika harga BBM kita sekarang termurah kedua di ASEAN sesudah Malaysia. Mereka yang selalu bertanya, "Mana hasil kerja Jokowi ? Mana ?" Tapi tidak melihat pergerakan massif pembangunan infrastruktur di luar Jawa mulai jalan smp jembatan. Mereka ga pernah main ke Kalimantan, Sulawesi apalagi Papua. Mungkin buat mereka Indonesia ini hanya Jawa.. Yah seperti katak dalam celana gitulah, pakde... Sesak.

Kasian sebenarnya mereka, hidup dalam kebencian tak ada habisnya. Padahal seandainya mau merendahkan hati sedikit, banyak yg mereka bisa temukan. Investasi triliunan rupiah mengalir deras ke Indonesia. Uang uang yang ada di luar negeri bahkan yang dulu dijarah, mulai kembali. Mereka tidak paham, pakde.. Bahwa membangun bahtera raksasa tidak bisa dalam sehari. Mungkin mereka hidup dalam dongeng Sangkuriang, yang tinggal nendang doang jadilah perahu raksasa kebalik atau tangkuban perahu. Pakde kan gak mungkin gitu ya, wong pakde kuyussss kelontang dan tidak sakti...

Sebenarnya, mereka mereka itu tak butuh Presiden.. Mereka butuh pak Tarno, pakde.. Prok prok jadi apa, jadi apa, sim salabim.. Indonesia tiba tiba sejahtera... 

Saya jadi keinget masa pilpres, ketika teman teman yang sedang di Jerman dan Belanda dan banyak negara lain, rela antri untuk memilih Presidennya. Padahal waktu itu sedang hujan, tapi antrian sangat panjang. Duh, antusias sekali mereka menaruh harapannya. Dan kayaknya pakde sudah bisa memberi kepercayaan kepada mereka, bahwa pakde sesuai harapan mereka. Terima kasih pakde, yang mampu menjunjung tinggi bahwa jabatan itu amanah bukan peluang belaka.

Saya sedang ngopi nih, pakde... Pakde mungkin sedang selfi selfi. Sehat terus ya pakde, karena harapan tinggi sedang kami gantungkan sekarang ke pundak pakde. Indonesia harus bisa kembali ke masa jayanya. Supaya ketika saya ketemu lagi dengan teman teman di Malaysia, saya tidak harus selalu tertunduk karena stigma di sana bahwa bangsa ini adalah bangsa pembantu. Saya dulu hanya bisa menjawab, "Yah, begitulah.." Dan saya berharap bisa tersenyum kepada mereka dgn bangga dan berkata, "Beginilah Indonesia.."

Seruput dulu, pakde.... Tolong bilangin ke Gibran, mbok ya markobar-nya dikirim gratis to... Masak tiap hari perut hanya diganjal tahu isi. Kapan bs berjuang dgn maksimal kalau gini ?

Tertanda,

Batman
Pangeran gelap2an. ( Mati listrik mulu, pakde.. Belon bayar hehehehe )

[denny siregar]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment