Tuesday, April 26, 2016

Mafia Dibalik Isu SARA


Dunia Hawa - Akhir-akhir ini kita prihatin dan bingung melihat ada kelompok yang mengatas-namakan warga "Pribumi" mengobarkan perang terhadap etnis Tionghoa, sampai-sampai mewacanakan akan mengulang kerusuhan Mei '98.

Anda pikir ini semua gara-gara "mulut kotor Ahok"? #ThinkAgain mikir lagi sana.. Itu hanya isyu yang dijadikan katalis (pemicu) dari upaya pembenturan etnis dan provokasi konflik ini. Bukan itu latar belakangnya.

Begitu juga dengan isyu "bahaya komunis" yang begitu gencar digendang sejak Jokowi resmi terpilih jadi Presiden.. mendramatisir alay ABG yang gaya-gayaan pakai kaos/pin Palu Arit diopinikan seolah-olah "tanda kebangkitan PKI" #PleaseDeh

Padahal alay-alay itu sudah pakai kaos/pin Palu Arit sejak Suharto lengser & Indonesia masuk era Reformasi kebebasan berekspresi tahun 1998. Kenapa baru diributkan sekarang? #CapekDeh

Sejak tahun 1998, film G30SPKI yang tadinya era Suharto wajib disiarkan TV nasional dihentikan pemasangannnya. Begitu juga atribut komunis Palu Arit yang tadinya dianggap Tabu mulai banyak orang berani memakainya sebagai Fashion, bukan ideologi.

Jadi sudah 18 tahun alay-alay itu berkeliaran pakai kaos/pin PKI, tidak pernah tuh ada yang meributkan.. Tidak ada yang meributkan era Habibi, tidak ada yang meributkan era Mega, tidak ada yang meributkan era SBY. Baru nyinyir ribut era Jokowi #TanyaKenapa

Karena yang disasar sebenarnya adalah Pemerintahan Jokowi. Isyu "bahaya komunis" diblowup begitu lebay oleh kelompok tertentu bertujuan untuk provokasi sentimen Anti Pemerintah dengan membentuk opini Jokowi ingin bangkitkan lagi PKI <= #HOAX

Tidak perlu orang cerdas untuk membaca ini. Karena bila kita jeli, kedua isu ini "anti cina" dan "bahaya komunis" dua-duanya dihembuskan oleh 2 figur dari poros CENDANA (istilah akrab untuk dinasti Suharto).

Hasutan permusuhan terhadap etnis Tionghoa dikobarkan pertama kali oleh KI GENDENG PAMUNGKAS (KGP) yang dikenal salah satu ahli spritual (dukun) dinasti Suharto. KGP melakukan provokasi tak lama setelah Jokowi resmi menjabat Presiden RI.

"Ada 50 kaos anti-Cina untuk kalian", ujar KGP pada akun facebook resminya, yang akan dibagi-bagikan pada acara konser musik Metal di Stadion Pajajaran Bogor pada 10 Maret 2015.

Ujar kebencian KGP ini disesali warga Netizen yang kemudian merespon dengan membuat Petisi menolak KGP di situs change.org. Petisi tersebut juga menuntut agar KGP dipolisikan.

Isyu "bahaya komunis" sendiri sebenarnya sudah gencar diopinikan sejak masa Pilpres oleh corong media Parpol ultra kanan dengan tujuan untuk Kampanye Hitam menjatuhkan elektabilitas Jokowi. Pasca Pilpres kicauan "bahaya komunis" diteruskan oleh akun twitter yang mengaku sebagai TOMMY SUHARTO.

Akun twitter yang mengklaim dirinya sebagai anak Suharto ini gigih menyuarakan "bahaya komunis" bahkan terang-terangan menyiratkan bahwa pemerintahan Jokowi dibawah kendali rezim Komunis RRC & berniat membangkitkan lagi PKI.

Akun yang belakangan diketahui palsu tersebut hanya salah satu dari sekian banyak buzzer (corong) provokasi sentimen Anti Pemerintah dan ajakan makar dengan menjual isyu "komunis & PKI"

INI BISNIS, BUKAN POLITIK

Karena ini semua intinya adalah bisnis, bukan politik. Upaya Mafia lama mempertahankan "Status Quo" priuk nasinya yang diobok-obok pemerintah.

Genderang perang ditabuhkan bukan oleh warga Pribumi kepada etnis Tionghoa.. tapi oleh Mafia lama yang mengatas-namakan rakyat, menjual isyu SARA "pribumi disakiti Tionghoa", dan menjajakan stigma "PKI",

Jangan Terpancing
Jangan Terpropokasi

Jangan mau dibodohi, dijadikan "pion" yang dimanfaatkan untuk melayani kepentingan bisnis Mafia lama yang saldonya dibuat berkurang oleh rezim inkumben.

[Ustad Abu Janda al-Boliwudi]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment