Friday, August 17, 2012

Hanya 30 Persen Perempuan Alami Orgasme

Orgasme merupakan salah satu hal yang paling ingin dicapai saat bercinta. Namun, sayangnya masih banyak perempuan yang belum mampu
mencapai orgasme saat bercinta dengan pasangannya, termasuk di Indonesia.

"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.


Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme. Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.

Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.

Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.

"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya. 

Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.

Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.

Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.
sumber : 

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment