Saturday, January 7, 2017

Denny Siregar ; CEO Asing di BUMN, Kenapa Emangnya?

DUNIA HAWA - "Lihat tuh, Presiden lu mau BUMN dipimpin oleh orang asing. Kayak gada orang kita yang pinter aja..". Selintas tulisan ini mampir di inbox yang gak bs saya jawab karena diblokir fesbuk. Ah, pertanyaan ginian bikin saya pengen ngopi lagi.


Sebenarnya, emang kenapa kalo BUMN dipimpin orang asing? Toh mereka cuman CEO -semoga dia ngarti apa arti CEO- sedangkan posisi kita tetap Owner. Jadi, apa salahnya Owner menggaji seorang CEO entah itu dari asing, aseng ataupun asem?

Kebanggaan diri yang ketinggian membuat kita malah banyak kalah di kancah pertarungan bisnis internasional. Penempatan konsep nasionalisme yang kurang tepat, membuat kita jadi tidak banyak bergerak.

Emang ada berapa banyak model Sri Mulyani di Indonesia? Atau berapa banyak yang seperti Thomas Lembong? Tentu bisa dihitung jari, meskipun jari kita juga sulit menghitung berapa banyak orang kita yang menjadi CEO di luar negeri. Dan mereka disana tidak ada masalah dengan itu. Jokowi sudah tepat membandingkan dengan Uni Emirat Arab yang dulu mempekerjakan orang bule untuk memimpin BUMN mereka. Untuk selamanya? Jelas tidak, toh mereka juga pekerja kontrak. Perlahan-lahan terjadi transformasi ilmu sehingga yang lokal bisa belajar dan mengambil alih pimpinan.

Ini hal yang biasa di dunia manapun juga. Jadi kalo masih kaget perlu piknik kayaknya.. dodol aja piknik, masak ente kagak?

Ingat Petronas, perusahaan minyak milik pemerintah Malaysia? Tahun 2014 aja, pendapatan Petronas mengalahkan pendapatan 141 BUMN Indonesia. Bikin malu, kan? Padahal dulu Petronas belajar dari Pertamina. Mereka tidak malu untuk menggaji orang-orang pintar dari negeri kita, untuk mengambil ilmunya.

Jadi, apa sih yang dikhawatirkan? Wong pelatih Timnas sepakbola kita juga orang asing -Alfred Riedl yang dari Austria. Indonesia pernah melarang pemain asing merumput di sini, dan -perhatikan - apakah sepakbola kita menjadi lebih baik karenanya? Tidak juga, kan? Jadi tidak perlu-lah alergi dengan yang asing-asing selama masih dalam kontrol kita. Mereka kita gaji dan kita manfaatkan ilmunya dengan baik.

Adanya CEO asing di BUMN bukan saja akan membuat kita tambah pengalaman dalam kancah internasional, juga akan membangun kompetisi sehat buat orang kita supaya jangan kalah dengan mereka.

Tapi, wajarlah... Wong kenaikan STNK 100 rebu untuk 5 tahun aja masih kagetan, apalagi membahas CEO asing, bisa jantungan. Bahas aja yang sesuai kapasitas, misalnya kancing jas Jokowi. Mungkin disana bakat terpendam anda, berfikir hal yang kecil-kecil ajah.

Kebetulan saya lagi nongkrong di warung padang. Mau pesan otak atau tunjang? "Tunjang aja deh, bang.. hehehe". Sini ku tunjang..

@denny siregar


Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment