Friday, November 11, 2016

(Dokumen Rahasia) Keterlibatan Cikeas dalam Upaya Lengserkan Jokowi

DUNIA HAWA - 4 November lalu, saya berada di Jakarta, sempat melihat langsung demonstran dari jarak dekat. Bukan karena sengaja ingin memantau, kebetulan saja ada urusan di sana.

Satu hal yang menarik adalah ekspresi orang-orang lingkaran ring satu. 3 November sampai malam harinya, saya menemui beberapa pejabat dan pihak-pihak yang punya akses langsung pada istana. Saya perhatikan, semuanya santai dan rileks. Kami tetap bisa membahas sesuatu tanpa mengkhawatirkan esok harinya terjadi kerusuhan luar biasa. Ini semakin meyakinkan bahwa memang tak akan ada masalah berarti pada 4 November.


Saat hari H, semua berlangsung biasa saja. Namun memang ada pembakaran mobil polisi dan penjarahan, itu saja yang membuat kondisi seolah-olah 98 mau diulang kembali. Apalagi Fahri Hamzah mau membuka pintu DPR bagi pendemo. Beruntung ini tak dilakukan, andai berhasil dibuka, maka otomatis massa akan menduduki gedung DPR sehingga Fahri Hamzah dan Fadli Zon punya alasan untuk melengserkan Jokowi, seperti orasi dan janjinya di hadapan para pendemo.

Dari beberapa orang yang saya temui, semuanya memiliki opini beragam, sebagian malah bersebrangan. Saya coba pikir dan analisa mana yang paling logis, sehingga kalau anda pembaca seword, tulisan saya beberapa hari terakhir itu sebagiannya adalah materi diskusi.

Namun selain diskusi, saya juga mendapat dokumen rahasia dari informan seword terkait demo 4 November. Pesannya cukup singkat “bantu buat tulisan untuk keutuhan Indonesia, jauhkan dari kelompok yang menginginkan Indonesia bubar.”

Setelah saya analisa, kemungkinan besar dokumen yang saya terima ini adalah hasil laporan dari kalangan Pak Mantan yang berhianat dan melaporkannya ke pemerintahan Jokowi. Sehingga rencana kudeta akhirnya gagal dilaksanakan. Berhubung ini cukup penting, maka saya akan bocorkan secara bertahap.

Berdasarkan penelusuran melalui media mainstream, mayoritas rakyat Indonesia sudah tau bahwa penolakan terhadap Ahok sudah berlangsung sejak 15 Oktober 2014, bersamaan dengan deklarasi GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta). GMJ didukung oleh FPI dan FUI, yang kemudian mereka bersama-sama mendeklarasikan gubernur tandingan, Fahrurozy Ishak.

Kelompok ini mendapar support dana dari H.U Tarunajajo yang merupakan salah satu pengurus Majelis dzikir Pak Mantan Nurussalom. H.U T merupakan operator politik dalam menggalang sejumlah majelis taklim (terutama) di Jakarta agar memilih Pak Mantan pada pemilu 2009.

Jika diperhatikan, kelompok ini sudah berkali-kali melalukan aksi demo Ahok, dalam banyak hal.

1. 10 November 2014, GMJ dan KMP deklarasikan gubernur tandingan.

2. 1 Desember 2014, FMJ, FBR, FPI menolak Ahok (masih dalam rangka gubernur tandingan)

3. 24 Maret 2015, GMJ mengajukan hak angket tolak Ahok

4. 28 Maret 2015, FUI demo terkait kata kasar Ahok

5. 29 Mei 2015, FBR kembali mendemo Ahok

6. 1 Juni 2015, GMJ, FPI, FUI, GOIB dan FBR

7. 6 November 2015, Demo forum mahasiswa Islam

8. 23 November 2015, komite tangkap dan penjarakan mafia APBD

9. 19 April 2016, komunitas nelayan tradisional menolak reklamasi.

10. 20 Mei 2016, Aliansi Masyarakat Jakarta Utara dan FBR demo kasus korupsi Sumber Waras

11. 23 Juni 2016, demo warga penjaringan Jakarta Utara

12. 12 Agustus 2016, Gerakan Arek Surabaya

13. 25 Agustus 2016, Jaringan Masyarakat Miskin Kota Jakarta

14. 21 September 2016, Aliansi Gerakan Selamatkan Jakarta

15. 22 September 2016, Indonesia Bergerak (penggusuran dan pelanggaran HAM). Demo gabungan dengan FPI.

16. 24 September 2016, demo FPI

17. 14 Oktober 2016, demo FPI

18. Demo 4 November 2016

Melihat perjalanan demo tolak Ahok yang terjadi sejak tahun 2014, kita tidak bisa mengabaikan bahwa rencana demonstrasi ini tersusun rapi dan sistematis. Sehingga sulit untuk kita abaikan bahwa ini sangat disengaja, dan puncaknya adalah Pilgub 2017. Sebuah agenda besar yang disiapkan sejak 2014, sejak Pak Mantan tak bisa berkompetisi, saat Ahok naik jadi Gubernur dan hampir pasti kembali maju pada Pilgub selanjutnya.

Jika kita lihat demonstrasi 4 November lalu, kelompok yang datang mendemo itu-itu saja. FPI, FUI, GMJ dan seterusnya. Mereka mendemo tolak Ahok, apapun kasusnya. Mulai dari reklamasi sampai Sumber Waras. Pendemo adalah kelompok yang sama. Mereka memanfaatkan setiap celah untuk melakukan demonstrasi.

Mereka sangat sadar karakter Ahok yang sangat reaktif. Ini terlihat dari satu kesempatan Ahok mengajukan pembubaran FPI. Untuk itulah kemudian HTI melakukan demo tolak Ahok dengan alasan haram memilih pemimpin kafir. Seminggu setelahnya Ahok bereaksi, saat sosialisai bantuan dengan warga kepulauan seribu, Ahok mengatakan:

“Jadi saya cerita ini supaya bapak ibu semangat. Ga usah kepikiran ‘ah nanti kalau ga kepilih, pasti Ahok programnya bubar’ nggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya,” kata Ahok.

Saat itu tak ada yang protes. Warga kepulauan seribu tertawa mendengar celoteh Ahok. Namun kemudian muncul si provokator Buni Yani, yang memperpendek video, menuliskan transkrip berbeda dan tambahan kalimat provokatif:

PENISTAAN TERHADAP AGAMA? (menggunakan tanda tanya, tapi seolah-olah menyatakan)

“Bapak ibu (pemilih muslim)…dibohongi surat Almaidah 51….(dan) masuk neraka (juga bapak ibu) dibodohi”

Dari sinilah kemudian Ahok disebut melalukan penistaan agama. Didkung oleh surat MUI yang sangat salah kaprah.

Dengan pembentukan opini tersebut, surat MUI yang disinyalir bermuatan politik kemudian menjadi legitimasi kuat bahwa Ahok memang melakukan penistaan agama.

Kemudian kelompok yang sudah mendemo Ahok sejak tahun 2014, kini semuanya berkumpul, bersama-sama mendemo Ahok. Mengingat mereka behasil mengumpulkan massa yang banyak, membodohi masyarakat yang tak mengikuti cerita ini sejak awal, maka agenda lebih besarnya adalah melengserkan Jokowi.

Itulah sekilas gambaran tentang demo 4 November dan kaitannya dengan Pak Mantan. Bagaimanapun dokumen yang ada di tangan saya sekarang masih berlembar-lembar.

Terakhir, penting untuk kita ketahui bersama, maklum saja kalau Pak Mantan galau dan prihatin, sampai curhat, sebab salah satu kabinetnya dulu berhianat lalu mengirim dokumen analisa keterlibatan Pak Mantan dan Cikeas dalam upaya melengserkan Jokowi. Sehingga Pak Mantan mengatakan agar jangan langsung percaya dengan laporan intelijen dan seterusnya, sebab memang sudah dag dig dug dokumennya diterima Presiden Jokowi.

Begitulah kura-kura

[alifurrahman via seword]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment