Wednesday, October 12, 2016

Untung Ada Nusron Wahid


DUNIA HAWA - Sejak lama agenda untuk memecah belah Indonesia sudah dilakukan oleh kelompok kelompok yang ingin menguasai negeri ini..

Isu itu semakin kencang pada era pemerintahan Jokowi ini, dimana banyak yang kecewa berat ketika Jokowi membelokkan ekonomi yang dulu berkiblat ke barat, sekarang lebih condong ke timur. Mereka yang dulu berpesta-pora menggunakan model kapitalis harus mulai menahan ujung dompetnya ketika Indonesia mengarah ke sosialis.

Karena itu, untuk menghambat laju perekonomian negara kita yang diramal kedepannya akan memimpin ASEAN, maka dihembuskanlah berbagai isu mulai rasial, PKI sampai agama. Ini barang dagangan yang cepat laku di Indonesia. Yang rasial dibakar dgn api kecemburuan, PKI dengan ketakutan dan agama dibungkus dengan kefanatikan.

Bergaungnya masalah surat Al Maidah 51 untuk menghambat Ahok sebagai Gubernur DKI, sejatinya diharapkan mempunyai skala yang lebih luas. Ahok hanya sebagai jembatan saja, tapi yang diincar adalah kerukunan umat beragama di Indonesia.

Situasi yang terjadi menguji hubungan antar agama di Indonesia. Seakan-akan dengan bekal ayat ayat Al-quran yang menjadi pegangan mayoritas penduduk Indonesia, membuat agama lain tidak berhak untuk memimpin negara ini.

Jelas ini berbahaya, bisa memantik kecemburuan di beberapa wilayah dimana umat muslim menjadi minoritas. Mereka yang beragama Kristen, Hindu dan Budha yang dulu kakek dan neneknya berjuang menumpahkan darah untuk kemerdekaan ini, akan merasa dirampas haknya sebagai warga negara.

Dan ketika ayat ayat Alquran dipaksakan sebagai sistem hukum di negara yang berbasiskan Pancasila, jelas kacau adanya. Negara mau dikembalikan pada situasi saat ada piagam Jakarta sebelum dicabut, bahwa negara kita berdasarkan syariat Islam.

Lihat saja pergerakan mereka.. Cara mereka memainkan isu yang membakar melalui media online dan media sosial. Edit, pelintir dan sebarkan untuk menggiring persepsi orang, memancing sumbu pendek yang anunya buntet keluar kandang.

Untung ada Nusron..


Meski banyak cendekiawan muslim yang turun memberikan pengetahuan bahwa Al Maidah 51 itu sejatinya bukan untuk politik, tapi suara mereka, tulisan mereka nyaris tak terdengar ditengah riuhnya suara mencaci dari umat di seberang jendela yang persis seperti kumpulan ayam menjelang jam makan. Berisik...

Nusron Wahid tidak menyia-nyiakan panggung yang diberikan kepadanya di acara tv nasional, ia langsung membantai, membanting, menghajar, menabok, mencubit, mengkilikitik, menowel ( makin lama kok makin feminin ya? ), pola pikir barbar yang ditanamkan oleh mereka yang sok berperilaku ulama tapi otak dangkal.

Dengan suara menggelegar, ia berkata keras, tegas dan pedas. Membuka ruang ruang di akal mereka yang muslim dan toleran. Mereka ini yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada si bebal bergincu tebal. Mereka hanya ingin diyakinkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Begitu juga dengan agama lain..


Mereka melihat Nusron sebagai wajah Islam yang sesungguhnya, bukan Islam berpunuk onta. Mereka lega bahwa Nusron menjadi perwakilan dari Nahdlatul Ulama yang masih menjadi organisasi muslim terbesar di nusantara.

Dengan pernyataan Nusron, mereka memahami bahwa Indonesia masih layak diperjuangkan, bukan karena siapa yang paling mayoritas agamanya tetapi karena ini adalah tanah kita bersama..

Nusron malam itu seperti kopi pahit bagi si rasis berotak dangkal, tapi manis ketika diseruput seluruh bangsa Indonesia tanpa mengenal ras dan agama..

Tabayyun Tameng Para Munafik


Melihat Nusron Wahid di acara ILC tadi malam saya sungguh bangga..



Di balik orang orang yang mempolitisasi surat Al Maidah 51, Nusron Wahid menghajar pemikiran mereka dengan keras, mengembalikan apa yang selama ini mereka selalu gaungkan yaitu tabayyun, atau cek dan ricek dengan berprasangka baik..

Memang lucu orang orang itu..


Jika ada yang menyerang mereka, mereka selalu berteriak "Tabayyun woi, tidak boleh berprasangka jelek.." Tapi kenapa ini tidak berlaku kepada mereka sendiri yang asyik menafsirkan apa yang Ahok ucapkan pada saat ia berpidato di kepulauan seribu?

Mereka, mulai dari MUI, Ahmad Dhani sampai Din Syamsudin - duh pak Din kenapa jadi begini? - dengan mudahnya menafsirkan apa yang diucapkan Ahok dengan penafsirannya sendiri tanpa mau bersusah payah bertanya kepada Ahok apa maksud dia mengatakan tentang surat Al Maidah 51 itu?

Bahkan orang yang dituduh memplintir video Ahok si Buni Yani pun mengalami kegagalan berfikir. Dia meminta orang orang tidak berprasangka buruk dengannya terhadap kasus video itu, tapi ketika dia mengedit dan menyebarkan video itu dia sudah berprasangka buruk kepada Ahok.

Ketika akhirnya ia yang diserang, senjata "Tabayyun" itu pun dipakai sebagai tameng, perlindungan utama daripada masuk penjara?

Hajaran Nusron Wahid dengan suaranya yang terbiasa menggelegar, seharusnya membuka ruang ruang sempit dari sudut gelap otak otak mereka yang sudah tertutup kebencian berkarat.

Entah bagaimana cahaya bisa masuk jika tidak ada sedikitpun lubang yang mereka buka sekedar untuk menerima kebenaran yang disampaikan, karena selama ini mereka mengisinya dengan pembenaran versi mereka.

Orang bilang "memang lidah tak bertulang" menunjukkan bahwa siapapun bisa berbicara sesuai dengan apa yang ia ingin sampaikan. Tapi lidah digerakkan oleh hati. Ketika hati busuk, maka lidahpun mengeluarkan suara busuk pula.

Apakah mereka yang disentil oleh Nusron Wahid itu mau sedikit membuka hati bahwa apa yang diucapkan Nusron benar adanya?

Ah, bahkan Imam Ali as pun memperingatkan akan bahayanya kemunafikan...

"Dan aku ingatkan kalian tentang orang-orang munafik..


Hati mereka berpenyakit, walau wajah mereka tampak bersih. Mereka bicara obat, padahal perbuatan mereka tak ubahnya penyakit yang tak mungkin disembuhkan.

Mereka lantunkan pujian terhadap sesama mereka. Mereka berharap balasan dari sesama mereka. Bila meminta sesuatu mereka ngotot. Jika memarahi orang, mereka mempermalukannya. Jika memutuskan, mereka berlebihan.

Untuk setiap kebenaran, mereka siapkan jalan sesatnya. Untuk setiap yang lurus disiapkan pembengkoknya. Kalau bicara, mereka ciptakan keraguan. Bila menggambarkan sesuatu, mereka berlebihan. Mula-mula mereka sodorkan jalan lapang, namun setelah itu, mereka sempitkan jalan itu.."

Semoga saya tidak dimasukkan dalam golongan orang munafik.


Kopi tiga rebuan ya saya bilang tiga rebuan. Tidak perlu saya selfie kemudian di upload dengan tagline "Ketika sedang di Starbucks." tapi tidak sengaja di latar belakang tertangkap nama warkopnya, "Warung Kopi Matalupicek, besok gratis sekarang bayar".

Besoknya kapannn ? Wong tiap saya ngopi pemilik warkop bilangnya sekarang...

[denny siregar.]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment