Tuesday, August 9, 2016

Keluarga Besar "ASAL BUKAN AHOK"


Dunia Hawa - Lihat Koalisi kekeluargaan itu saya jadi ingat Koalisi Merah Putih...

Koalisi yang dibentuk berdasarkan kepentingan bersama asal bukan si anu. Dan anggotanya hampir hampir mirip, cuman ada pertukaran anggota barisan, PDIP dan Golkar.

Disinilah saya melihat cerdasnya seorang Luhut Panjaitan mengatur strategi saat pengambil-alihan Golkar. Seperti kita pernah bahas dulu, bahwa pemilihan ketua umum Golkar sejatinya adalah pertarungan Luhut dan JK. Dan Luhut bisa memenangkan pertandingan dengan "membeli" Setnov dan Ical supaya berbalik arah. Kepentingan dilawan dengan kepentingan juga.

Golkar yang dulu berlawanan arah, mendadak menjadi pendukung utama. Ketika Golkar sudah ditangan dan hitungan kursi sudah memadai, maka supaya aman, Ahok diminta untuk menggunakan jalur partai.

Memang jalan satu- satunya buat lawan Ahok adalah membuat koalisi. Kumpulkan banteng, sapi dan kuda dalam satu kandang. Tidak cukup? Masukkan juga kambing sekalian.

HTI, FPI, Aliansi Nasional Anti Syiah, MIUMI dan para pria berdaster kompak menolak Ahok juga. Motif mereka bergabung macam macam. Ada yang kembang kembang, polkadot, ada juga yang polos berenda. Paling banyak kotak kotak merah mirip serbet di rumah.


Nafsu "asal bukan Ahok" menyatukan mereka semua, sama seperti ketika dulu KMP terbentuk dengan konsep asal bukan Jokowi. Koalisi yang niatnya hanya mendulang suara, tanpa punya konsep dan kriteria pemimpin yang kuat untuk membangun Jakarta. Tarik sana, comot sini, otak atik gathuk. 

Menyebalkan memang, tapi pertarungan jadi semakin panas dan menarik. Meski lawan Ahok sebenarnya belum terlihat siapa, tapi aura pertarungan keras sudah mulai tercium. 

Dan kita tahulah gaya gaya tetangga sebelah. Yang dimunculkan hanya masalah santun, ras dan agama tanpa punya konsep bagaimana membangun Jakarta dengan cerdas. Mereka hanya memunculkan "siapa" dan bukan "apa".

Kemana pasar taruhan memihak?

Kalau dulu di sepakbola ada cumi cumi yang memberikan petunjuk siapa yang menang. Dalam politik Indonesia, saya memegang Ruhut Sitompul sebagai cumi-cuminya. Hidungnya tajam, mampu mencium dimana aroma kekuasaan.

Ruhut berkata, "Segemuk apapun koalisinya, Ahok pasti menang.. " Saya sangat setuju pendapat si abang ini, apalagi PKS dan ormas berdaster panjang ada di posisi lawan, makin jelaslah kemana arah anginnya.

Untuk koalisi kekeluargaan, saya punya sedikit saran...

Dalam keluarga, selalu berpegang pada prinsip Sakinah, Mawadah wa Rahmah, yang berarti Nyaman, Harapan dan terbitlah Kasih Sayang.

Semoga jika kalah nanti, jangan menjadi keluarga yang Sakitnyatuhdisinih, Maumoveonajasusah dan Walahkalahmaningkalahmaning...

Sekian dan salam seruput kopi.....

[denny siregar]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment