Monday, August 8, 2016

Sekolah Sehari Penuh, Memutus Interaksi Anak-Orang Tua


Dunia Hawa - Anak-anak lebih baik sehari penuh di sekolah. Orang tua mereka sibuk, tidak ada waktu untuk mereka. Jadi lebih baik anak-anak disibukkan di sekolah, mereka baru pulang ketika orang tua pulang kerja. Itu adalah gagasan Mendikbud soal pendidikan. Saya jadi berpikir, ini Menteri Pendidikan atau Menteri Perindustrian?

Gambaran tentang orang tua yang sangat sibuk adalah gambaran di kota besar dengan segala kemacetannya. Di daerah orang hidup lebih santai. Apalagi di pedesaan, petani tidak bekerja sampai malam. Sepertinya menteri ini lupa bahwa 70 persen lebih masyarakat kita tinggal di desa.

Tapi terlepas dari soal itu, pendidikan seharusnya memperbanyak interaksi antara anak dengan orang tua, bukan menghilangkannya. Hanya karena kita menyekolahkan anak, tidak berarti tanggung jawab mendidik anak gugur. Kalau orang tua sibuk, mereka harus didorong untuk menyisihkan waktu, bukan malah membiarkan mereka jauh dari anak-anak.

Rasanya tidak perlu lagi saya jabarkan argumen soal pentingnya interaksi dengan anak. Kalau masih ada yang meragukan hal itu, sebaiknya mereka punya anak dari tabung saja, pakai mesin-mesin pembiakan. Anak dikandung oleh ibunya, dalam perlindungan ayahnya, kemudian diasuh oleh keduanya, bersama anggota keluarga yang lain. Itu sistem yang alami.

Bagi saya, anak harus tumbuh dalam interaksi yang dekat dengan orang tua. Makanya saya mengkampanyekan konsep orang tua adalah guru bagi anak-anak mereka. Meski sibuk dengan urusan pekerjaan, saya tetap menyisihkan waktu untuk mendampingi anak-anak belajar. Baik saat pulang kerja maupun akhir pekan. Pada saat saya pulang, anak-anak sudah cukup istirahat, siap berinteraksi dengan saya. Bayangkan kalau gagasan menteri tadi dilaksanakan, kami pulang ke rumah, anak-anak lelah, langsung tidur. Kapan berinteraksi dengan keluarga?

Bagi saya pendidikan bukan sekedar soal berapa lama anak di sekolah, tapi soal bagaimana sekolah membentuk karakter mereka. Sekolah kita bagi saya sudah sampai pada level yang sangat mengerikan. Sekolah sudah jadi gudang pelajaran, dengan materi pelajaran bertumpuk tinggi, menyita ruang interaksi dan kebebasan anak. Sekolah yang itupun masih akan ditambah lagi dengan berbagai jenis les dan pelajaran agama, seperti gagasan Pak Menteri. Ini sekolah atau pabrik?

[hasanudin abdurakhman, phd]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment