Wednesday, March 2, 2016

Timur Tengah Tanpa Israel




Pernah ada gagasan yang sebenarnya sinis, untuk memberi saja orang-orang Israel sebidang wilayah di tengah wilayah Amerika Serikat. Ini memang hanya gagasan imajinantif, atau sebenarnya frustratif. Orang-orang frustrasi melihat betapa Israel begitu kuat, dikelilingi oleh musuh-musuh Arab tidak membuat mereka goyah. Tapi ada baiknya kita membuat simulasi bila gagasan itu benar-benar dilaksanakan, apa yang akan terjadi? Akankah berdiri sebuah negara merdeka bernama Palestina? Akankah Timur Tengah lebih damai?

Mari kita simulasikan soal kemerdekaan Palestina dulu. Apakah bila tidak ada negara Israel di wilayah konflik itu akan berdiri negara Palestina?

Palestina adalah sebuah negeri dengan sejarah yang teramat panjang, khususnya Jerusalem. Sejarah mencatat bahwa peradaban sudah ada di wilayah ini sejak 7000 tahun yang lalu. Sepanjang sejarah itu, wilayah ini selalu menjadi rebutan. Jerusalem sudah pernah dihancurkan sebanyak 2 kali, dikepung 23 kali, ditaklukkan dan dibebaskan sebanyak 44 kali. Karenanya sulit untuk melakukan klaim yang sahih atas siapa sebenarnya pemilik sah wilayah ini.

Sepanjang sejarah itu, pernahkah orang-orang Palestina memerintah di wilayah mereka sendiri? Ini pertanyaan yang sebenarnya agak tidak bermakna. Istilah "Palestina" dalam pengertian bangsa menurut beberapa ahli sejarah justru baru menguat dalam atmosfer perlawanan terhadap Israel, setelah negara Israel berdiri. Sebelum itu istilah ini relatif tidak dikenal.

Secara ringkas bisa kita catat bahwa wilayah ini tadinya dikuasai oleh Kekaisaran Turki Usmani, sebelum direbut oleh Inggris pada Perang Dunia I. Di bawah kekuasaan Turki tentu tidak ada negara Palestina. Adalah Inggris yang menguasai wilayah ini dalam sistem administrasi Mandat Palestina, yang punya gagasan untuk memberikan wilayah itu menjadi 2 negara. Satu untuk orang-orang Arab yang diberi identitas baru, yaitu Palestina, dan satu lagi untuk orang-orang Yahudi, sebuah negara Israel. Wilayah utama yang hendak diberikan kepada Palestina adalah Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Acre. Gagasan ini didukung oleh PBB. Sayangnya gagasan ini ditolak oleh pihak Arab. Sebagai respon, orang-orang zionis Yahudi memproklamirkan negara Israel, kemudian diperangi oleh Mesir, Syiria, dan Yordania.

Melalui perang di tahun 1948, Mesir menguasai Jalur Gaza,Yordania menguasai Tepi Barat, dan wilayah Acre dikuasai Israel. Mesir pernah secara formal mencanangkan pemberian otoritas kepada Palestina di wilayah Gaza setelah merebut wilayah itu. Namun hal itu hanya sebatas formalitas saja. Faktanya, Mesir terus mengontrol wilayah itu sampai direbut Israel pada perang tahun 1967. Demikian pula, Yordania juga terus mengontrol wilayah Tepi Barat sampai tahun 1967. Tidak pernah kedua negara itu memberi wewenang kepada orang-orang Palestina untuk memerintah di wilayah mereka sendiri.

Wilayah untuk Israel pernah dipertimbangkan untuk disediakan di wilayah Amerika Selatan. Seandainya wilayah Israel tersebut tidak diberikan di Timur Tengah, melainkan di Amerika Selatan, atau di suatu tempat di Amerika Serikat, akankah berdiri sebuah negara Palestina medeka? Menurut saya tidak. Tanpa Israel negara-negara Arab mungkin tidak akan pernah punya gagasan untuk mendirikan negara Palestina. Wilayah yang kini diperjuangkan sebagai wilayah Palestina akan menjadi wilayah negara-negara lain di wilayah itu, yaitu Mesir, Yordania, dan Syiria. Tidak ada Palestina.

Lalu, apakah Timur Tengah akan damai? Itupun tidak. Ketiga negara di atas mungkin akan sibuk berperang berebut wilayah. Atau, perang saudara akan pecah di dalam wilayah itu. Kita tahu bahwa antara orang-orang Arab itu tidak saling bersahabat satu sama lain. Sama-sama hendak memperjuangkan Palestina, dengan musuh bersama bernama Israel saja pun mereka saling berbunuhan. Tanpa Israel, mereka akan makin garang dalam hal saling berbunuhan.

Timur Tengah adalah wilayah yang minim demokrasi dan kebebasan. Negeri-negeri di wilayah ini dikendalikan oleh pemerintah monarki absolut, atau pemerintah tiran. Situasi ini menyimpan bara perlawanan untuk kebebasan. Ada pula masalah antara agama, Kristen dan Islam. Lalu ada persoalan etnis seperti masalah Kurdi, juga ditambah masalah mazhab seperti Syiah-Sunni. Kemudian ada pula persoalan perebutan pengaruh antara Barat dan Timur. Irak dan Syiria (dulu) lebih dekat ke Rusia, Saudi, Mesir, Yordania, lebih dekat ke Amerika. Tanpa Israel, wilayah ini tetap rawan konflik.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa kisruh di Timur Tengah tidak melulu soal Israel. Perang Iran-Irak adalah soal Sunni-Syiah dan persaingan Saddam vs Khomeini. Pemberontakan suku Kurdi adalah soal nasionalisme etnis berhadapan dengan penguasa Tiran. Assad sudah menjadi tiran sejak abad lalu dan masih tiran hingga di zaman anaknya kini. Ia membunuhi sejumlah aktivis Ikhwanul Muslimin. Mesir juga tidak pernah berhenti dari rundungan konflik internal.

Singkat kata, tidak akan banyak berubah di Timur Tengah bila Israel tak ada. Tidak akan ada negara Palestina, dan tidak akan ada perdamaian.

[hasanudin abdurakhman/ kang hasan]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment