Wednesday, March 2, 2016

Politik Menjual Islam


Dunia Hawa
Anda yang muslim, yang menganggap pemimpin itu harus muslim, cobalah bertanya, mengapa kita punya begitu banyak partai Islam? Mengapa kita tidak punya satu saja partai Islam? Untuk apa sih partai Islam itu? Untuk memperjuangkan Islam, bukan? Islam itu satu, bukan? Tapi mengapa untuk memperjuangkan sesuatu yang tunggal diperlukan banyak wadah?

Jawabannya sederhana, karena mereka itu partai politik. Anggotanya adalah politikus. Untuk apa orang berpolitik? Untuk meraih kekuasaan, lalu membaginya. Itu dulu. Kekuasaan itu biasanya akan berkaitan dengan uang. Maka, berbagi kekuasaan nyaris identik dengan berbagi uang. Merebut kekuasaan nyaris identik dengan merebut uang.

Itu adalah jawaban yang fatalis dan terlalu menyederhanakan. Masih sangat mungkin ada politikus baik, yang menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan. Kita harus percaya itu, kalau tidak kita sulit untuk percaya pada politik. Persoalannya, kita harus menilai, apakah para politikus dari partai-partai Islam itu telah memerankan diri mereka sebagai pejuang Islam, atau sekedar sebagai politikus perebut kekuasaan?

Partai-partai Islam pernah bersatu dalam satu wadah, yaitu Masjumi. Masjumi didirikan oleh tokoh-tokoh organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam Indonesia, dan Partai Sjarikat Islam Indonesia. Namun keberadaan partai ini sebagai partai tunggal hanya berlangsung selama 2 tahun Tahun 1947 PSII keluar dari Masjumi. Motifnya, untuk mendapatkan jatah kursi di Kabinet Amir Sjarifudin. Masjumi yang tadinya menolak kabinet ini akhirnya bergabung juga.

Perpecahan tidak hanya sampai di situ. Orang-orang NU yang sebenarnya merupakan bagian utama Masjumi, hanya mendapat posisi di Majelis Sjura. Posisi eksekutif ditempati oleh kalangan “modernis” yaitu Natsir, Roem, dan Sjafrudin. Hal ini menimbulkan kecemburuan. Lalu akhirnya NU juga menyatakan keluar dari Masjumi. Pada pemilu 1955 keduanya bersaing, menghasilkan Masjumi di posisi kedua, dan NU di posisi ketiga. Posisi pertama ditempati oleh PNI.

Setelah itu partai-partai Islam tidak pernah bersatu. Soeharto mencoba menyatukannya dalam wadah PPP. Tapi yang bersatu cuma wadahnya saja, isinya tetap konflik oleh orang-orang yang saling sikut untuk merebut kekuasaan. Ketika Soeharto jatuh, partai itu kocar kacir, menghasilkan banyak partai baru. Itu masih ditambah lagi dengan partai-partai lain, yang tidak pernah punya sejarah khusus dengan PPP.

Jadi, apa yang mereka perjuangkan? Perebutan kekuasaan. Kalaupun ada yang bekerja dan berjuang untuk kepentingan umat Islam, itu hanya segelintir saja.

Kekuasaan adalah hal yang nikmat. Ada begitu banyak tokoh yang tadinya adalah orang biasa, orang pinggiran. Tiba-tiba mereka bisa jadi orang terhormat, melalui politik. Mereka jadi menteri, anggota dewan, dan pejabat negara lainnya. Uang, kedudukan, eksistensi, semua bisa mereka nikmati. Lalu, bagaimana mungkin orang-orang ini akan menjadikan perjuangan untuk umat sebagai prioritas? Tidak mungkin. Memperjuangkan umat memerlukan sikap konsisten, termasuk di dalamnya mengorbankan jabatan dan kedudukan. Nah, itu yang tidak mungkin terjadi. Yang banyak terjadi adalah penghimpunan kekuatan politik untuk terus bertahan. Kekuatan itu komponen utamanya adalah uang. Jadi, mereka biasanya sangat sibuk mengumpulkan uang.

Tapi kenapa mereka masih didukung oleh banyak orang? Karena mereka menjual ayat. Mereka memanfaatkan ketakutan orang pada siksa neraka. Maka mereka membangun dalil, bahwa haram hukumnya memilih pemimpin yang bukan muslim. Benarkah? Kalau begitu, bagaimana hukumnya bernegara yang bukan negara Islam? Haram atau halal? Kalau memilih pemimpin yang non-muslim itu haram, seharusnya bernegara yang bukan negara Islam juga haram, bukan? Nah, bagaimana hukumnya berpolitik di dalam sistem yang bukan sistem Islam?

Jangan berharap ada konsistensi dari mereka. Mereka tidak benar-benar memperjuangkan kepemimpinan Islam. Ketika mereka benar-benar mendapat kekuasaan untuk jadi pemimpin, mereka juga tidak berkelakuan seperti layaknya pemimpin Islam. Mereka korup dan mencuri.

Di hadapan mereka berdiri orang-orang bodoh yang takut pada siksa neraka bila tidak memilih pemimpin Islam. Mereka menikmati betul kebodohan itu, karena kebodohan itu telah mendatangkan banyak uang. Mereka adalah orang-orang[ yang menjual Islam.

[hasanudin abdurakhman/kang hasan]



Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment