Friday, February 26, 2016

Pro Kontra Rio Haryanto



220 milyar rupiah hanya untuk seorang Rio Haryanto? Darimana pemerintah mendapat uang sebanyak itu sedangkan sponsor nyaris tidak ada ? Pertamina-kah yang jadi andalan ditambah kocek kementrian olahraga yang berasal dari APBN? Pada posisi rakyat sedang susah, apakah pemerintah tidak salah menginvestasikan dananya?

Begitu saya melihat banyak perdebatan pandangan di fesbuk tentang ini.

Kalau meihat angka 220 milyar-nya saja, memang sungguh besar. Banyak cabang olahraga lain akan sangat iri ketika Menpora spt meng-anak emas-kan Rio. Apakah layak sebesar itu untuk hanya sebuah “kebanggaan”?

Apalagi sebenarnya Manor Racing hanya-lah perusahaan swasta saja yang memegang hak eksklusif untuk membalap di formula one. Sebagai perusahaan swasta, Manor tentu ingin menangguk keuntungan sebanyak2nya. Layaknya perusahaan internasional, mereka yang terlibat meng-kapitalisasi event itu mulai dr tempat penyelenggaraan acara, hak siar tv, sampai pendapatan dari uang pendaftaran.

Kalau hanya melihat dari angka 220 milyar-nya saja, ya pasti mencak-mencaklah. Tapi coba kita lihat apa yang dilakukan oleh Malaysia.

Malaysia terjun full di dalam even olahraga bergengsi seperti Formula one ini. Bukan hanya turun, mereka malah meng-kapitalisasinya melalui Petronas. Angka ratusan miliar untuk mengikuti even, mereka bayar dengan penjualan produk2 Petronas di seluruh dunia. Mereka menganggap ini adalah bagian dari promosi global ikon Petronas. Dan jika sudah berbicara promosi global, maka kita berbicara uang yang tidak sedikit.

Malaysia bukan hanya bermain dalam promosi produk pembalap, mereka membangun sirkuit sendiri. Anda bisa bayangkan, kalau mendaftarkan seorang pembalap saja harus keluar kocek ratusan miliar rupiah, lalu berapa triliun yg harus dikeluarkan untuk membayar Formula one supaya pembalap2 internasional itu mau berlaga di Sepang ?

Apakah mereka untung dalam even balap itu ?

Jika yang dimaksud untung dalam hal perdapatan langsung, tentu tidak. Tetapi yang dijual Malaysia adalah ekosistem-nya. Ketika pembalap mereka beradu di sirkuit Internasional, maka logo Petronas berkibar dimana2. Logo itu berkaitan dengan persaingan produk mereka di internasional.

Ketika orang akhirnya memahami bahwa Petronas adalah Malaysia, maka Malaysia mulai melebarkan sayapnya dengan membangun Sepang Sirkuit. Dengan sirkuit itu, Malaysia mulai promo besar2an dengan iklan Visit Malaysia. Yang dijual adalah kunjungan wisatawan mancanegara ke Malaysia, dengan sirkuit itu sebagai penarik turis mancanegara.

Dan hasilnya, sektor pariwisata menjadi jagoan ke tiga pendapatan Malaysia dari sisi pendapatan valas . Dan pada 2011, Malaysia adalah negara yang sering dikunjungi no 9 diantara banyak negara.

Begitulah cara Malaysia membangun sisi-sisi ekonomi-nya. Formula one, Moto GP ataupun even olahraga bergengsi dan mahal yang mereka kelola hanya sebuah gimmick saja untuk meraih pendapatan negara.

Jadi, melihat Rio Haryanto jangan hanya melihat dari sisi berapa ratus miliar rupiah yang harus di keluarkan sekarang. Tetapi jika semua itu dikelola dengan benar dengan melibatkan banyak komponen dalam pemerintahan termasuk BUMN, maka Rio adalah “uang muka” yang dibayarkan untuk mulai menebarkan konsep kapitalisasi Indonesia ke mancanegara. Ini investasi jangka panjang seharusnya, bukan hanya masalah “kebanggaan” saja.

Pariwisata Malaysia dibandingkan Indonesia sungguh tidak ada apa2nya, tetapi mereka mampu mengemas dan menjualnya dengan cantik. Kenapa tidak Rio dijadikan duta pariwisata Indonesia di mancanegara ? Jangan sampai Malaysia yang mengambil-nya dan dikapitalisasi atas nama negaranya. Nanti ribut lagi kalau Malaysia suka klaim.

Ini mungkin akibat kita lebih sering makan tahu isi, jadinya seperti toge yang berantem dengan wortel di dalam tahu.

Seharusnya semua elemen bersatu, antara pahit dan manis, bagaimana even mahal ini menjadi nikmat pada akhirnya nanti. Seperti secangkir kopi. Asal komposisinya benar, ngaduknya benar, cuacanya tepat… Slurrrrp sedapp…

[denny siregar]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment