Sunday, September 18, 2016

Tampang Sopir dan Pembantu: Catatan “Antropologi Haji” (3)


DUNIA HAWA - Malam itu, bus yang membawa saya, istri, dan rombongan “kandidat” haji lain (mayoritas warga ekspat profesional dari Pakistan, India, dan Arab, selain penduduk Saudi tentunya) yang berangkat dari Dammam ke Makah berhenti di sebuah kota untuk istirahat sejenak untuk makan-minum, ke toilet, salat, atau sekedar “selonjoran” biar kaki dan tubuh tidak kaku-regeng kayak tiang listrik. Di tempat itu ada cukup banyak bus malam dari berbagai kota yang berhenti istirahat. 

Ketika saya waktu itu yang mengenakan jeans dan kaos plus sepatu-sandal sedang “clingak-clinguk” dan bengong berdiri di depan bus yang mengangkut kami, tiba-tiba ada dua anak muda mendekat, lalu menyapa: “Dari Indonesia ya mas?”

“Ya betul,” jawabku singkat.

“Kami juga dari Indonesia mas, dari Bandung. Kami berdua tetanggaan,” sambung salah satu dari keduanya. 

Saya pun bertanya lagi: “Sampean sudah lama tinggal di Saudi? Kerja dimana?”

“Biasa mas kami ‘orang Indo’ jadi sopir bus Saptco sudah beberapa tahun disini. Itu busnya. Kami mau ke Riyadh. Di Saptco ada banyak sopir-sopir ‘Indo’. Jadi kami seperti di kampung sendiri saja sering ngumpul-ngumpul. Lumayan di Saptco mas, setiap bus ada dua sopir, jadi tidak capek,” papar salah satu dari mereka. Saptco adalah perusahaan bus cukup besar dan populer di Saudi yang melayani berbagai rute antar-kota seseantero Saudi.

Pada waktu saya sedang manggut-manggut mendengarkan paparan mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya kepadaku: “Kalau mas kerja jadi sopir dimana? Sopir pribadi atau sopir bus kayak kita-kita?”

Belum sempat saya menjawab pertanyaan dadakan itu, mereka bertanya lagi: “Ini mas mau kemana?” 

“Mau ke Makah, mau ‘hajian’”, jawabku.

Lalu mereka menimpali: “Sudah dapat surat ijin haji dari pemerintah belum? Hati-hati lo mas, sekarang ketat sekali pemeriksaan haji di setiap kota mau menuju Makah. Tahun lalu banyak yang ketangkap dan dipulangin karena tidak membawa surat ijin haji (baca, Tashrih). Kalau dulu-dulu banyak yang “haji bonek” sekarang sudah susah harus ada surat resmi.”

Belum sempat kami ngobrol banyak, mereka sudah buru-buru pergi karena jadwal bus Saptco sudah tiba saatnya berangkat. 

Setibanya di tenda Al-Kaaf, Mina, kami berjumpa lagi dengan teman Indonesia yang kebetulan juga dari Bandung. “Mas, dari Indonesia ya?”, tanyanya yang langsung saya iyakan. 

“Majikan mas baik ya memberi ijin untuk haji, sama seperti majikan saya. Dia juga memberi ijin haji. Ahamdulilah, setelah jadi sopir pribadi beberapa tahun di Jeddah, akhirnya bisa hajian juga,” paparnya. Dia kemudian bertanya dengan polosnya: “Mas, jadi sopir pribadi di kota mana?” 

Saya jawab singkat: “Dhahran mas, di Saudi bagian timur.”  

Sejenak saya manggut-manggut dan mesam-mesem saja mendengarkan paparan ceria dan pertanyaan polos teman Indonesiaku ini.

Jika mereka menganggapku sebagai sopir (padahal saya tidak bisa nyopir mobil lo. Naik motor saja beraninya kalau di tempat sepi he he), istriku, kali ini oleh seorang perempuan Filipin, dikira seagai “babu”. Ketika tahu istriku dari Indonesia, warga Filipin yang kebetulan sedang bekerja di agen travel haji Al-Kaaf tadi tiba-tiba menebak: “Oh, jadi kamu disini menemani ‘your madam’ ya?” (bersambung).

Prof.Dr.Sumanto al Qurtuby, MSi, MA

Staf Pengajar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, dan Visiting Senior Research Fellow di Middle East Institute, National University of Singapore

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment