Wednesday, March 15, 2017

10 dari 14 Jaksa Nyatakan Ahok Tidak Bersalah


DUNIA HAWA - Sidang kasus Ahok menarik perhatian banyak orang. Apakah Ahok bersalah atau tidak? Kita lihat nanti diputusan akhir persidangan. Namun dari 10 dari 14 jaksa menilai tidak ada penodaan agama seperti yang diutarakan oleh I Wayan Sudirta anggota tim kuasa hukum terdakwa Basuki Tjahaja Purnama.

“Asal diketahui, 10 dari 14 jaksa yang memproses kasus tersebut menyatakan tidak ada penodaan,” kata Wayan di Jalan Cemara 19, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (15/3/2017).

I Wayan Sudirta menjelaskan, jaksa penuntut umum yang menangani kasus dugaan penodaan agama mengaku tidak memiliki bukti yang menunjukan adanya tindak pidana tersebut.

Kita juga dapat melihat bahwa enam ahli hukum pidana yang dipanggil penyidik juga menyatakan hal yang serupa.

Sama dengan yang diutarakan oleh Wayan sehingga Wayan meyakini kasus tersebut merupakan rekayasa dan Ahok yang menjadi korbannya. Saat ini, menurut Wayan, jaksa penuntut umum tengah berusaha keras untuk membuktikan dakwaannya.

“Dikorbankan dia, direkayasa dia. Sekarang pontang-panting jaksa harus membuktikan dakwaannya. Semua saksi juga de auditu. Dari ahli yang dipanggil penyidik, 6 ahli pidana menyatakan tidak terbukti menodai agama,” kata Wayan.

Pada sidang ke-14 kasus penodaan agama, kuasa hukum menghadirkan ahli hukum pidana dari UGM, Edward Omar Sharif Hiariej. Edward merupakan saksi yang awalnya akan didatangkan JPU. Saat dihadirkan dalam persidangan, JPU pun menolak menggali keterangan dari Edward.

Dari kesaksian Edward kemarin dan juga saksi ahli pidana yang lainnya terlihat jelas bahwa kasus ini hanya rekayasa belaka.Edward sebagai saksi ahli pidana mengatakan bahwa pasal 156a yang lebih detail dari pasal 156 mengharuskan adanya unsur kesengajaan sehingga harus ada niat dari pelaku untuk menistakan agama.

Dari sini kita bisa menilai bahwa untuk mengetahui apakah niat tersebut ada atau tidak maka kita harus melihat kehidupan sehari-hari Ahok. Nah kita tahu sendiri bagaimana Ahok selama menjabat jadi Gubernur justru banyak membantu umat muslim. Dari mendirikan mesjid hingga memberangkatkan marbot untuk umrah atau naik haji.

Dari persidangan sebelumnya yang menghadirkan supir Ahok dan teman dekat Ahok semasa kecil, kita dapat gambaran bahwa Ahok itu bukan orang yang rasis. Dia tidak pernah menghina agama orang sebelumnya, lalu tiba-tiba disangka melakukan penistaan? Yang bener aja lah. Supir Ahok kerap diingatkan untuk sholat Jumat dan Ahok menunggu dimobil. Sementara teman Ahok sejak kecil mengatakan bahwa Ahok tidak pernah menistakan agama. Kerap diskusi tapi diskusi yang sehat, bukan model debat yang saling menjatuhkan argumen lawan. Selain itu Ahok juga memberangkatkan empat orang untuk naik haji.

Jadi jelas ini hanya upaya mengkriminalisasi Ahok yang sedang ikut Pilkada agar kalah. Dan Terbukti upaya tersebut sejauh ini cukup berhasil menggerus suara Ahok. Ahok yang tadinya memiliki elektabilitas diatas 60% tergerus hingga sempat hanya 10% menurut LSI. Beruntung Ahok dan pendukungnya dapat meningkatkan lagi elektabilitasnya hingga menang pada putaran pertama.

Agama kerap digunakan oleh lawan-lawan Ahok untuk menjegal Ahok. Terbukti saat ia kalah di Bangka Belitung, ayat yang sama kerap digunakan untuk menjegal Ahok. Mantan Ketua Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Belitung Juhri mengatakan banyak selebaran bermuatan kampanye hitam yang menyerang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat ia menyalonkan diri sebagai calon gubernur Bangka Belitung pada pemilihan kepala daerah 2007 silam.

“Isinya adalah larangan untuk memilih pemimpin yang tidak satu akidah,” ujar Juhri dalam persidangan di Ruang Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, pada Selasa (14/3). Juhri mengatakan selebaran serupa memang kerap muncul di daerahnya saat pemilihan kepala daerah berlangsung. Baik pemilihan gubernur, maupun bupati.
“Begitu kami cek alamat sekretariat yang ada di selebaran, kami justru tidak bisa menemukannya. Nomor telepon yang tercantum pun tidak bisa dihubungi. Kami menduga ini adalah bentuk black campaign,” katanya.

Selebaran ini, kata Juhri, memang tidak secara langsung menyebut nama Ahok. Namun saat itu, dari lima calon gubernur yang menyalonkan diri, hanya Ahok yang tidak beragama Islam. Sedangkan untuk calon wakil gubernur yang beragama non muslim ada satu orang yang beragama Budha.

“Tapi, yang namanya pemimpin itu yang nomor satu. Biasanya, kalau dia hanya seorang wakil, tidak dapat penyerangan seperti itu,” ujarnya.

@gusti yusuf


Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment