Sunday, October 16, 2016

Salah Kaprah Memahami Tafsir


DUNIA HAWA - Jagad perpolitikan negeri ini sedang hangat dengan isu SARA yang berlandaskan teks formal keagamaan untuk menjegal calon tertentu. Banyak para pedagang ayat dan politikus agama yang menggunakan tafsir dari kitab tertentu untuk menjatuhkan lawan politiknya secara tidak fair karena kalah bersaing secara program dan prestasi kerja nyata.

Kita harus paham bahwa teks formal keagamaan disusun pada masa ribuan tahun lalu yang tentunya kondisinya sudah jauh banyak berubah dan berbeda dengan situasi dan kondisi jaman ini. Saat teks tersebut ditulis, orang masih belum mengenal listrik, masih beranggapan bahwa bumi adalah datar dan mengelilingi matahari dan belum mengenal bakteri serta virus sehingga menganggap penyakit itu adalah kutukan dewa ataupun serangan setan. Perbudakan, perang dan poligami juga masih dianggap sebagai suatu hal yang lumrah atau umum dilakukan banyak orang saat itu. Adat, budaya dan nilai-nilai sosial jaman 1400 tahun yang lalu tentu sangat berbeda dengan nilai dan tatanan sosial masa kini dan itu adalah hal yang wajar saja.

Benar jika ada yang meyakini bahwa suatu kitab adalah benar dan abadi. Tapi yang dimaksud disini adalah inti ajaran, makna, ruh, semangat dan esensinya, bukan sekedar tekstual formal dan makna lahiriahnya saja. Jika makna lahiriah yang ada di kitab yang ditulis ribuan tahun yang lalu diterapkan semua dalam kehidupan sekarang ini tentu ada banyak yang kurang cocok.

Misalnya dalam suatu kitab ditulis bahwa suatu kasus pemerkosaan / perzinahan hanya boleh dihukum jika terdapat 4 orang saksi dewasa yang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Jika hal ini diterapkan di jaman sekarang tentu tidak akan pernah ada pemerkosa yang masuk penjara karena ga mungkin si pemerkosa akan melakukan perbuatannya di depan umum, setidaknya di hadapan 4 orang dewasa. Dan aneh juga jika ada 4 orang dewasa yang melihat suatu tindakan pemerkosaan di hadapannya dan tidak melakukan apa-apa untuk mencegah perbuatan jahat tersebut.

Tapi sekarang sudah ada metode visum dan uji test laboratorium yang memungkinkan bagi pihak berwenang untuk membuktikan seseorang itu bersalah karena memperkosa ataukah tidak. Jadi demi tegaknya keadilan dan kebenaran maka metode terbarulah yang dilakukan dan dijadikan standar untuk jaman sekarang dan hukum yang berlaku 1400 tahun yang lalu tersebut dirasa sudah tidak relevan, tidak akurat, tidak praktis dan tidak efektif untuk dijalankan pada masa sekarang. Dan ini adalah hal yang wajar karena sudah mengikuti perkembangan jaman dan tehnologi yang sudah memungkinkan kita untuk melakukan pembuktian dengan cara tersebut.

Hal yang sama juga berlaku untuk hal yang bersifat politis. Di masa lalu, perang seringkali dianggap sebagai suatu penyelesaian atas sebuah konflik. Teks-teks yang tercipta di masa perang tentunya tidak bisa digunakan sebagai patokan dan standar di masa damai. Apakah kita akan membenci negara Belanda, Jepang dan Jerman dan tidak mau menjalin hubungan serta kerjasama diplomatik dengan mereka di masa kini hanya karena kita berpegang teguh pada tulisan tentang perang di bacaan ataupun surat kabar yang terbit di tahun 1940-1945?

Begitu juga di masa kini ada sebagian orang yang berpegang teguh pada teks perang masa lalu dan menjadikannya sebagai dasar dan pedoman bagi tindakannya di masa kini yang sebenarnya adalah masa damai. Dari sinilah kemudian lahir kelompok radikalis dan teroris yang kemudian mengancam dan mengganggu keamanan serta ketertiban umum. Contohnya adalah teks-teks di masa perang berikut ini :

“ Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah” (QS 9 : 29)

“ Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu “ (QS 9 : 123)

“ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya semata-mata untuk Allah. “ (QS 2 : 193)

“ Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka. “ (QS 2 : 191)

“ Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (QS 8 :12)

“ Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik.” (QS 5 : 33) 

Karena berpegang pada teks jaman perang ini maka jangan heran jika kemudian ada seorang pemuka dan petinggi lembaga agama berkata di acara TV nasional : “Bunuh, Salib, Potong dan Usir“ kepada seorang pejabat yang kebetulan keseleo lidahnya. Begitu juga ada ketua ormas yang berteriak di tengah demo besar dengan ancaman : “Bunuh si A (nama pejabat tertentu)!!“ Para pengikut mereka juga seringkali mengungkapkan hal yang sama atau bahkan lebih kasar lagi dari hal itu. Tafsir yang ngawur dan salah kaprah atas teks perang ini juga yang kemudian melahirkan para teroris berjiwa iblis seperti ISIS, Al Qaedah, Boko Haram, Thaliban, Jamaah Islamiyyah, Abu Sayyaf dan lain-lain.

Kaum radikal hanya memilih dan mengambil teks tertentu di masa perang untuk membenarkan misi jahat dan tindakan kejam mereka demi mencapai ambisi politiknya. Padahal di dalam kitab juga ada lebih banyak lagi ayat yang menganjurkan kebaikan dan sifat memaafkan. Contohnya adalah teks-teks berikut ini :

“ Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang mukmin ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". (QS Al Maidah: 82).

 ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin, barang siapa yang beriman diantara mereka itu kepada Allah (Tuhan) dan hari akhir (kiamat dan kematian) serta berbuat kebajikan maka untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tak ada ketakutan atas mereka dan tiada mereka berduka cita”. (Al-Baqarah : 62)

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia … maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al Maidah : 32). 

“Jadilah engkau seorang pemaaf.” (QS Al Araf : 199), 

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.” (QS Fushilat : 34), 

“Maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al Hijr : 85)

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan perbuatan -perbuatan baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Al Bayyinah : 7), 

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (Q.S Ali Imron:159)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An Nahl : 90), 

“Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.” (QS Al Kahfi : 19), 

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS Asy Syuara : 183).

“Dan berbuat baiklah kepada sesamamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS Al Qashash : 77) 

Selain itu juga ada banyak sekali hadits yang mengajarkan kebaikan dan kedamaian seperti contohnya berikut ini :

“Aku (Nabi Muhammad SAW) adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam (Yesus) di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan Agama mereka adalah Satu.” (HR. Bukhari-Muslim). 

“Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai terhadap dirimu sendiri.” (HR Bukhari) 

“Barang siapa yang tidak menyayangi manusia maka ia tidak akan disayangi oleh Allah”. (HR Bukhari -Muslim)

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

” (HR. Bukhari, Hakim, Baihaqi) “Islam berarti memiliki ahlak yang baik.” (HR. Bukhari) 

“Sesungguhnya Allah itu menyukai lemah lembut dalam semua perkara.” (HR Bukhari-Muslim) 

“ Dan kamu tidak akan beriman hingga kamu kamu kasih sayang kepada sesama.”, (HR Muslim) 

“Bukanlah dari umatku orang yang tidak mempunyai kasih sayang.” (HR Tirmidzi-Abu Daud) 

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu.” (HR Muslim)

“Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu selalu menolong sesamanya.” (HR Muslim)

“Tahukah kamu orang yang diharamkan ke neraka pada hari kiamat? Yaitu tiap orang yang tidak kaku, lemah lembut, mudah berurusan dan bersifat mendekati.” (HR.Tirmidzi)

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan orang mukmin di hari kiamat selain daripada memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi) 

“Agama itu adalah nasehat yang baik.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi) 

“Permudahlah dan jangan mempersulit. Gembirakanlah mereka dan jangan menyebabkan mereka menjauh. Berusahalah kalian untuk senantiasa bersepakat dan janganlah bertengkar.” (HR Bukhari-Muslim)

“Sedang-sedanglah kamu, dan berdekat-dekatlah dan buka harapan.” (HR Bukhari)

“Siapa yang tidak sayang, tidaklah ia disayangi. Siapa yang tidak kasih, tiadalah ia dikasihi oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim)

“Sikap lemah lembut dalam sesuatu hal itu akan menghiasinya dan kekasaran dalam sesuatu hal itu cuma akan mendatangkan keburukan baginya.” (HR Muslim) 

“Sedang-sedanglah kamu dan berdekat-dekatlah dan buka harapan.” (HR. Bukhari Muslim) 

“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembiralah dan jangan kecewakan”. (HR. Bukhari Muslim).

Para pembaca mungkin ada yang bingung saat membaca berbagai teks formal keagamaan ini, kenapa ada teks yang seolah memprovokasi dan kenapa ada teks yang mengajarkan kedamaian dan kesejukan yang seolah saling bertentangan. Saran saya bertanyalah pada para kyai terutama dari Nahdlatul Ulama (NU) atas penjelasan ini karena mereka paham akan Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat tertentu) dan bagaimana cara yang benar untuk menafsirkan, memahami dan mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi saat ini. 

Belajarlah dari KH. Mustofa Bisri, Habib Luthfi bin Yahya, Quraish Shihab, Buya Syafi’i Maarif, KH. Said Aqil Siradj ataupun tokoh ulama lain yang jelas tingkat dan kwalitas ilmunya. Jangan belajar pada ustadz kemarin sore ataupun ulama abal-abal yang belum jelas keilmuannya. Jangan sekedar ikut aliran ga jelas yang gemar meneriakkan slogan “Kembali pada Quran dan Sunnah” padahal ilmu agama mereka masih seupil sehingga salah memahami ayat yang akibatnya berujung pada sikap diskriminasi, anti perbedaan, anti toleransi, fanatisme, menghalalkan kekerasan bahkan mendukung kejahatan.

Salam Waras......

[muhammad zazuli]

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment